Nafas kutarik ulur dengan susah payah, aliran darah kaku tak terasa, mataku entah masih mampu melihat apa, telingaku entah masih mampu mendengar apa, otakku entah masih mampu memikirkan dan mengingat apa. Yang aku bisa lakukan dengan tubuhku adalah mengeras dan sesekali mengerang menahan sakit. Kadang-kadang tersadar kadang-kadang tidak.
Lemahnya aku. Kadang terlihat sangat kepayahan. Mataku mengedip perlahan, mencari kesadaran yang aku butuhkan untuk bilang,"Demi Tuhan ini sakit sekali." tanganku kaku, terus mengepal melawan kelemahan. Terlihat sangat susah tersenyum aku rasa. Bahkan akupun terkadang berpikir bahwa tubuhku hampir mati. Nyawaku seperti dipermainkan. Tapi aku tidak akan sudi membiarkan diriku terlihat lemah dan manja.
Mungkin kali ini, tidak ada pilihan. Kesakitan melumpuhkan kekuatanku. Sepertinya harus merasa sedikit menderita untuk bertahan.
___________________________________________________
Ada seorang anak baru saja dibaringkan di sebelahku. Anak yang mungil dengan darah diwajahnya dan luka-luka ditubuhnya. Dia terjatuh dari sepeda dan terpental 15 meter jauhnya.
Astagfirulloh...
Sembari diobati, kuperhatikan anak malang itu. Anak yang manis, dia sama sekali tidak mengeluh kesakitan. Hanya keningnya saja yang mengkerut.
Itu tangannya....
Pergelangan tangannya membengkak. Entah bengkak atau patah tulang.
"Pak, saya sarankan anak bapak di rontgen agar memastikan efek benturan pada kepala dan pergelangan tangannya. Ada kemungkinan jika tidak patah tulang, pembuluh darahnya pecah di dalam."
Lalu dokter itu meminta menggerakan tangan kanan si anak malang itu.
"Bisa kau gerakkan tanganmu?"
anak itu hanya menggelengkan kepala.
anak itu hanya menggelengkan kepala.
Anak itu tetap diam tanpa mengeluh.
Kepala ayahnya tertunduk.
Kakaknya menghela nafas panjang.
Keadaan hening seketika.
___________________________________________________
Aku masih terbaring kaku dan masih menarik ulur nafas sembari melihat kearah anak mungil itu dengan iba.
Setidaknya aku tidak menderita sendirian.
dan mata yang lemah ini perlahan aku katupkan,
Baiklah aku ingin istirahat.
Ya aku yakin tempat tidur UGD ini tidak lebih baik dari tempat tidurku sendiri. Besi kaku dengan alas berbusa yang tak nyaman. Pantatku panas. Kepalaku pegal rasanya. Lagipula tak ada bantal dan guling. Tak ada musik. Tak ada berisik.
Kali ini hanya sayup kudengar suara seorang anak,"Papaah..Papaah.."
23 Juni 2010
Klinik UNPAD Jatinangor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar