18 Februari 2011

"Takdirku sudah tersurat sejak awal. Jika aku ingin protes, aku harus kembali ke awal"

Wajahnya pucat pasi. Dia sedang melawan nyawa yang mau mati. Banyak bunga mawar disekelilingnya, tapi sudah perlahan merunduk dan akan membusuk. Bunga mawar, bunga kesayangannya. Bunga yang mudah mati, katanya seperti dirinya, mudah mati.

Dia terbaring lemah dengan sel darah putih yang berhasil merajai tubuhnya. Degup jantungnya tidak terlalu terdengar nyaring lagi, seperti tawanya yang mulai mebisu. Denyut nadinya tida seagresif dulu ketika senyum diwajahnya selalu muncul dengan mudah. Hidupnya memang terlihat singkat, sesingkat ketika dia sadarkan diri dari matanya yang mengatup, mengedip, melirik sedikit, dan mengatup lagi, dan tak rasakan apa-apa lagi.

Kubisikan pada bulan yang hanya menjadi sabit malam ini. Aku tak hiraukan angin dingin kali ini. Seperti yang dia mau, aku sampaikan pertanyan yang sering mengusiknya, bahwa masih adakah harapan untuknya bernafas dengan tenang lagi? Berlari dengan senang lagi? Bahkan hanya berjalan dengan nyaman lagi?

"Biar Tuhan menjawabmu lewat tidur-tidurmu yang nyenyak itu. Yang ketidaksadarannya dikelilingi beberapa selang pembantu kehidupan." Aku lihat dia tak lagi bersedih, dia tak lagi berair mata. Maka kusimpulkan ini lebih baik. Tapi tidak lebih baik jika dibandingkan ketika dia sedang senang berbicara tentang cara hidupnya yang tak hiraukan garis mati yang dia tahu sebenarnya. Dia hanya menjadi gadis yang berjalan sebagaimana biasanya, tersenyum dan menangis sebagaimana biasanya tanpa mengeluh bahwa sebentar lagi semuanya akan usai. "Aku tidak pernah menyesal apa yang terjadi. Menyesalinya sama saja menyesali kehidupan yang telah dibentuk Tuhan. Maka, semakin murka saja sepertinya Tuhan padaku."

Ya, Kau hanya menerima semuanya dengan baik, kau bilang, "Takdirku sudah tersurat sejak awal. Jika aku ingin protes, aku harus kembali ke awal"

Takdir Tuhan siapa yang tahu. Terakhir dia membakar semangatnya dipadang rumput, berlarian mengejar kunang-kunang yang selalu bercahaya dalam kegelapan. Dia tidak pernah takut bayangan, karena bayangan bukannya pertanda masih ada cahaya? Maka sebelum ruangan benar-benar gelap, dia tidak mau berhenti bergerak.

Maka berhentilah dia bergerak malam ini. Matanya sudah gelap. Pandangannya sudah tak bisa menerima sinyal cahaya. Mesin pendeteksi detak jantung itupun makin melemah, melemah, melemah, dan berbunyi nyaring dengan visualisasi garis horizontal.

Hujan larut dalam rumput kering. Kesedihan merona di malam yang terasa suram. Sekarang dia benar-benar pergi. Aku rasa Tuhan sudah menjawab pertanyaan besarnya. Dia menuntunnya pergi untuk melihat harapan di dunia berbeda. Nyawanya melangkah meninggalkan semua yang hidup. Tanpa mengucapkan sampai bertemu lagi. Tanpa melambaikan tangan kanan dan kiri. Yah, terkadang kepergian memang tidak perlu diiringi tanda perpisahan.

Kesedihan membuatmu merasa dan berpikir

Kesedihan tidak akan membuatmu mati

Kesedihan hanya akan membuatmu hilang rasa untu sejenak

Kau akan merasa ini adalah akhir

Kau akan merasa selalu sendiri

Kau akan merasa dirimulah yang paling salah

Kau akan merasa tak ada jalan lagi yang bisa kau tempuh

Kau akan merasa kau telah berada diujung jalan

Kau akan merasa bahwa tidak ada siapa-siapa yang berjalan bersamamu

Kau akan merasa bahwa didunia ini kau lah yang paling menyedihkan

Kau akan merasa bahwa setitik hujan yang muncul sore hari adalah masalah baru yang membuatmu semakin penat

Kau akan merasa bahwa kau lah orang yang paling bodoh

atau bahkan kau sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa


Kesedihan yang baik adalah kesedihan yang bisa membuatmu berpikir selangkah lebih depan

Kau akan berpikir bahwa nestapa ini adalah sama saja dengan belajar

Kau akan berpikir bahwa inilah saatnya untuk bertahan

Kau akan berpikir bagaimana caranya mencari jalan lain untuk keluar dari kesedihan

Kau akan berpikir kenapa bisa begini

Kau akan berpikir untuk memperbaiki apa yang salah

Kau akan berpikir untuk menjadi manusia yang lebih baik

Kau akan berpikir untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang harusnya kau ambil

Kau akan berpikir bahwa hidup ini terlalu indah jika dihabiskan hanya untuk penyesalan dengan berbagai macam kesalahan

Kau akan berpikir bahwa masih banyak orang lain diluar sana yang merasakan lebih dari sekedar kesedihan

Kau akan berpikir bahwa kau akan baik-baik saja karena kau mempunya banyak orang baik disekelilingmu

Kau akan berpikir bahwa setitik hujan di sore hari bisa membawa ketenangan sehingga kesedihan akan terasa lebih ringan dengan sendirinya


Jadi, bukankah segala isi kehidupan adalah lembaran pelajaran?!

Panda sedang tak senang..

Salahkan malam yang terlalu gelap

Panda jadi tidak bisa tertawa

Padahal di dalam kedinginan kulitnya ada jiwa yang hangat


Salahkan malam yang terlalu dingin kalau begitu,

Membuat panda susah bernafas

Membuat detak jantungnya terdengar memburu

Memuat denyut nadinya seakan terpompa lebih kencang


Salahkan malam yang terlalu kaku

Panda jadi terdiam terpaku

Bicarapun panda takut

Takut hati yang sudah dingin malah makin membeku


Salahkan malam yang terlalu banyak menyimpan rahasia

Panda jadi gelisah

Panda bingung mengatasi resah

Panda tak tahu cerita mana yang pantas dicerna

Karena panda sendiri tak tahu harus bagaimana


Panda yang lucu dan baik

Daripada terlalu banyak hal yang membuat hatimu tercabik

Daripada banyak hal yang membuat dirimu tak tertarik

Daripada banyak hal yang membuatmu melamun tak juga melirik

Tidurkan saja dirimu, panda

Tidur dan kau akan tidak tahu apa-apa

Karena terkadang lebih baik tidak tahu apa-apa daripada banyak tahu lantas kenapa-kenapa.

20 Januari 2011

Surat untuk Kekasih

Yang terkasih..

Andai mengirimkan surat cinta lewat tukang pos masih lazim untuk zaman kita, aku lebih memilih mengirimkan ini untukmu. Kamu akan tau bagaimana bahagianya kamu ketika menerima surat dari seseorang yang kamu sayang dengan cara yang tidak lazim.

Hai kamu yang terkasih. Aku disini dan kamu disana. Kita saling menggenggam dunia masing-masing tapi juga menggenggam dunia untuk kita berdua meskipun jarak kita terpaut lebih dari 50 km kiranya. Kamu tau betapa aku merasa sangat luar biasa ketika mencintai itu menjadi suatu keikhlasan yang aku jalani seberat apapun rintangannya, meskipun jika harus realistis akupun tak tahu sampai kapan itu bertahan. Tapi bukankah dua orang yang saling mencintai tidak mau tahu kapan hubungannya akan berakhir? Begitupun aku yang tak mau tahu kapan dan dimana hubungan ini akan berakhir. Kita berdua mengharapkan hal yang sama. Bersama-sama selalu dan tak kenal akan apa itu akhir.

Cintaku yang sedang kupikirkan. Macam-macam hal yang telah kulalui disini, dan aku yakin kau pun disana berbuat hal yang sama dengan macam-macam peristiwa yang terjadi di hidupmu. Ingin selalu aku terlibat dalam berbagai peristiwanya, tapi apa boleh buat raga ini belum sampai untuk berdampingan menyongsong waktu demi waktu untuk terus bersamamu.

Sayangku. Rindunya aku padamu. Entah aku harus berkata apa lagi dan harus melakukan apa lagi. Pikirku pun rasanya kamu bosan mendengar ceritaku setiap hari yang tak jauh dari apa kita katakan rindu. Ini bukan menyiksaku, dan juga kamu. Bukan juga memenjarakan kita dalam jarak yang merentang. Bukan. Sungguh aku tak permasalahkan itu. Rasa ini hanya sebagai penambah kekuatan untuk selalu menyayangimu dengan keadaan apapun. Rasa ini sebagai penambah kekuatan untuk melangkah meski tidak sedang bersamamu. Tidak bersamamu saja kamu berhasil member kekuatan, apalagi bersamamu. Aku tak mampu melepaskan.

Kekasihku. Aku rindu. Ketika kita bertemu, aku ingin malihat matamu dulu, lalu memelukmu. Aku rasa itu akan sangat menenangkan bathinku. Selalu denganmu….


Salam rindu. Aku.

19 Januari 2011

Intermezzo

You may see me laughing with you
You may see me cry with you
but you should not see me disappear from you
I know it will hurt you
and also hurts me
Then hold me
and I will hold you back tightly
When we become one and belonging to each other
Everything will seems fine.

Aku terbangun sebentar saja..

Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Aku ingin melihat semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang hilang sedikitpun dariku

Kecuali kenangan-kenangan hari lalu

Yang selalu kuharap berdampak baik bagiku


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Untuk sekedar mendengar lagu akustik sendu

Dan berpikir apa yang akan terjadi pagi ini, siang hari ini, dan malamnya

Aku harap sesuatu yang baik akan selalu terjadi karena manusia selalu ingin hal yang baik dalam dirinya

Apapun


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Bukan karena aku berencana,

Tapi memang aku tak sengaja terjaga

Lampupun masih remang, malam masih senyap, dan udara dingin masih tetap berjelaga


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Bukan untuk bercinta dengan angin malam,

Bukan juga untuk menyapa kesunyian,

Tapi untuk bercerita pada gelap yang mendamaikan


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Untuk membuka lembaran putih

Yang mengantarku menyongsong kata-demi kata

Apapun yang terlintas dalam benak dan rasa

Kutuliskan meski tanpa tangga nada


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Ini hanya untuk menyusun sebuah harapan

Bukan bermacam-macam ketakutan

Bukankah sah saja jika aku mulai mengharapkan sesuatu

Meskipun hanya satu?


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini...

Dan merasa kaupun masih bersamaku

Menggenggam hatiku meski kau tak disampingku

Pesan terakhir yang kau kirim untukku

Kubaca kembali dan bersyukur

Aku bersamamu


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Bukan resah atau gelisah sayang

Tapi ini rindu

Rindu dan doa yang mengantarkanku kembali tertidur

Tertidur tanpa tau esok hari seperti apa

Semoga baik-baik saja


Aku terbangun sebentar saja dini hari ini..

Sebentar saja,

dan akan pergi bermimpi lagi

Selamat malam.

17 Januari 2011

# # #

When my heartbeat beats your name
Just your name in my mind
When every breath remainds me of you
Just your face that running in my thought

Your name,your face
Is like some drugs
It's like i feel i drunk
Every fantasy is full of you
All about you,nothing else..

Nothing else...
Every lyrics that i created
Every step that i made
Everything that i have to love to
Some question in my head
The answears are...
You!

This love is exactly for you....

Hari ini belajar apa?

Alhamdulillah...

Hari ini bisa keluar melihat banyak orang, melihat banyak keadaan dan melihat banyak kejadian. Itu semua bisa jadi ladang buat belajar tentang kehidupan.


Pertama.

Saya sedang melamun di waiting room bengkel mobil. Tiba-tiba ada mobil bak butut yang menurut perkiraan saya mengangkut banyak oli dirigen. Mobil itu melintas masuk ke area bengkel yang sekelilingnya terparkir mobil-mobil modern yang visualisasinya lebih bagus. Saya tersenyum,

"Ada si miskin, dan ada si kaya. Harusnya mereka bisa saling melengkapi dengan baik. Adanya si miskin harusnya bisa menjadi bahan renungan untuk si kaya. Adanya si kaya harusnya bisa menjadi bahan motivasi untuk si miskin. Alangkah indah bukan jika hidup saling melengkapi?"


Kedua.

Masih di bengkel, melihat cuaca sehabis hujan. Bau tanahnya menyejukan. Butir airnya masih beku dipermukaan tanah. Saya memutar otak,

"Jika dengan melihat sebulir rintik hujan saja manusia bisa berpikir, apalagi jika melihat hamparan hutan dan setumpuk uang? Kekuatan berpikir manusia memang luar biasa. Tergantung dari si pemikirnya menggunakan seperti apa."


Ketiga.

Akhirnya, saya keluar bengkel dan melaju diatas jalan protokol Soekarno Hatta, diluar sinar matahari sore hari terasa hangat sehabis hujan. Jalanan yang mulai kering dan padatnya kendaraan dengan tujuannya masing-masing. Saya berpikir,

"Bersyukurlah punya hidup yang didalamnya masih bisa menyimpan sejuta senyum dan kenikmatan. Semua orang tetap mencari kebahagiaan sepanjang hidupnya dengan cara yang berbeda-beda. Tuhan menciptakan perbedaan di dunia ini agar manusia saling berpikir bagaimana hal ini bisa menjadi menyenangkan, bukan malah menjadi pertentangan."


Keempat.

Menuju Jalan M. Toha, setelah itu menuju tol untuk pulang. Di traffic light dekat pintu tol, seorang lelaki cacat masih memegang kamoceng di tangannya, menghampiri mobil-mobil yang berhenti ketika lampu merah dengan senyum. Saya tahu dia mengharapkan nasib baik ari para pengemudi mobil di persimpangan jalan ini. Saya merenung,

"Cacat, panas, senyum, kamoceng. Meskipun punya kekurangan, tapi masih ada kemauan untuk berusaha mencari rezeki. Senyumnya, itu tanda ikhlas akan takdirnya. Patutlah saya bersyukur dengan segala berkah yang ada di hidup saya, karena diluar sana masih ada yang tidak seberuntung saya. Tidak seberuntung kita."


Kelima.

Lampu hijau, saya melaju masuk pintu tol disambut sinar matahari yang, silau tapi tidak galak. Sedikit menyengat tapi mendamaikan. Saya berucap,

"Terima kasih Tuhan atas sore hari yang indah."


Keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya, semuanya masih tentang kekuatan dan rasa syukur atas nikmat Tuhan hari ini, masa lalu dan masa depan.

Jadi seharusnya, masih pantaskah mengeluh?

07 Januari 2011

# #

2. sepasang matamu masih aku ingat

Meskipun rentang waktu telah menelan kenangan

Rengkuh tubuhmu masih aku ingat

Rasanya seperti tak ingin menghempas pelukan

Kuatkan kita berdua

Berjalan kembali bersama

Meski sempat rasa ini tertunda

Tertawalah akhirnya

Tersenyumlah kemudian

Nikmatilah rasanya

Tersenyumlah sayang…

#

1`. aku masih disini menanti

dan aku tau disana kau juga menanti

kita bersatu

tak usah ada lagi hal yang palsu

kita memang harusnya bersama

sumbu sepi padam

kita ada untuk saling menghangatkan

awan hitam hilang

kita ada untuk saling melindungi

sudah cukup genggam tanganmu

semua menjadi terasa indah

sudah cukup genggam tanganmu

sebesar apapun angin yang bercumbu di denyut nadi,

aku akan selalu ada untukmu.

Banyak rasa, berantakan.

Selamat malam, malam. Lagi-lagi berbicara dengan malam. Mengapa bukan pagi, siang, atau sore? Yasudahlah tidak perlu dipermasalahkan. Toh aku juga lebih suka malam.

Malam. Lihat muka ku sekarang? Kusut ya? Jangan menawarkan aku setrikaan panas karena itu tidak mungkin ku pergunakan. Jangan juga menawarkan angin malam yang mendamaikan karena aku bisa-bisa masuk angin. Heem, oiya, jangan menawarkan segelas caffeine juga, itu sudah sedikit aku kurangi sebelum aku mabuk dengan perkopian. Jadi pantasnya kamu menawarkan apa? Pantasnya kamu menawarkan rumah!

Aku ingin pulang, malam. Aku ingin bebas dari semua tekanan disini. Tekanan sosial, tekanan belajar teori, tekanan rutinitas, tekanan “garis mati”, tekanan angin besar, tekanan udara dingin, tekanan panas terik, tekanan kesepian, tekanan merasa jauh dari tempat aku berasal, tekanan dari sulitnya orang-orang, tekanan teman-teman menyebalkan, tekanan dari sulitnya menjadi sedikit lebih jahat, tekanan dari kegelisahan, tekanan dari……….. aaaaaaah, banyak sekali yaaa?

Aku masih bisa bertahan sebenarnya. Ya, masih bisa. Tapi malam ini suasana hatiku sedang rusak. Kacau balau berantakan. Seharusnya aku menyembuhkannya sendiri. Tapi entah kenapa, hiruk pikuk sekali jiwaku, ribut sekali bathinku, sempit sekali pernapasanku, buntu sekali pikiranku, dan yayayayaaa… kalimatnya mengambang karena memang pikiranku masih belum cukup merangkai klimaks dari kalimat itu.

Aku ingin menemukanmu disini kekasihku. Hei malam, apa kabar dengannya? Jika angin mu besar jauh menghembus kesana, kedadanya, tolong sampaikan rinduku padanya ya. Meskipun sebenarnya malam ini kami sedang saling berdiam diri. Saling? Ya, seperti yang kita janjikan, kita akan selalu “saling” dalam hal apapun, termasuk saling diam. Hahhaa.. aku yakin suatu saat ketika hal ini kita kenang, kita pasti akan saling melempar senyum bahkan tertawa. Ya, aku pasti akan sangat suka moment itu.

Halo kekasihku, aku sudah mengirim tanda kecup sayang lewat angin malam yang mungkin saja bisa sampai ke pelukanmu. Aku gelisah, aku resah. Aku khawatir, aku kesal. Aku bingung, aku marah. Tapi aku sayang, aku rindu. Perasaan yang tidak konsisten.

Malam. Malam. Malam. Apa ini yang namanya sangat rindu?

05 Januari 2011

.Aden.

Hai Aden,

Lama kita tidak bertemu, sejak pertemuan terakhir di 24 Desember 2010. Waktu itu masih musim dingin, hujan sering turun dengan deras. Tapi entah mengapa, saat aku ada kamu, hujan mendadak tidak turun sama sekali. Ya, memang sedikit mendung. Tapi langit sepertinya tidak membiarkan kita berdua terguyur hujan.

Aden,

Tahukah kamu aku rindu sekali melihat wajahmu. Meskipun setiap hari kita selalu berkomunikasi dengan baik dari pagi sampai malam, dari terbangun dari tidur hingga tertidur lagi, dari mata yang berkaburan hingga mata yang kantuk, dari melarikan diri dari mimpi-mimpi tak nyata hingga kembali ke mimpi-mimpi itu lagi. Terus seperti itu tapi aku tidak juga merasa bosan seperti ini beberapa tahun terakhir.

Aden,

Hahaa.. aku tau kamu pasti benci ketika aku panggil kamu Aden. Kenapa sih? Ada apa? Padahal nama itu begitu berartinya di ingatanku. Kamu tau kenapa? Dengan nama ini aku merasa mengenalmu jauh lebih lama dari kenyataannya. Itu nama panggilan kecilmu kan? Maka dari itu, aku akan merasa dekat dengan masa lalumu, masa kecilmu seakan-akan dulu kita pernah bermain bersama ketika masih kecil, merakit mobil-mobilan bersama dengan khayalan nanti ketika kita beranjak dewasa kita akan pergi menggunakannya menuju tempat lain dan bersenang-senang, atau juga membuat perahu kertas dengan khayalan kita akan pergi berpesiar menelusuri jagat laut yang berombak, melihat matahari terbenam di tengah samudera dan menikmati secangkir teh di ujung perahu. Indahnya membayangkan khayalan. Khayalan masa kecil yang selalu bagus, tidak ada yang terangkai buruk.

Aden,

Baiklah, mungkin aku hanya bisa memakai nama ini di catatanku saja. Nama yang mengkhiaskan satu wujud yang lebih indah dari yang orang lain fikirkan. Tentunya karena aku berpikir yang beda dari yang lain. Bukan hanya berpikir dari apa yang dilihat tapi juga melihat dengan perasaan yang tulus, yang telah terasah beberapa tahun terakhir ini. Waktu yang lama ya, Den?

Aden,

Kamu bersikeras memintaku untuk jangan memanggilmu Aden, karena itu akan terkesan kau lah orang yang berada di strata atas, kau bilang itu panggilan untuk “orang besar”. Aku hanya bisa bilang, “Iya.” Apalagi alasannya jika bukan untuk menenangkanmu dan tidak membuatmu kesal padaku. Padahal besar rasanya keinginanku meskipun hanya merintih memanggil Aden di depan mukamu apapun kondisimu sekalipun kamu sedang mengantuk dan mulai bimbang antara sadar dan tidak sadar. Hahaha.. sepertinya kondisi itu memudahkanku untuk memanggilmu, “Aden” sambil mengusap rambut berponimu. Poni yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan poni masa kecilmu. Rata menutupi dahi. Hanya dulu kamu terlihat lebih tembem dan gemuk. Sekarang tidak lagi. Tidak tahunya kamu bahwa kamu memang telah menjadi orang besar dihatiku. Orang yang telah membesarkan hatiku untuk menerima perbedaan.

Aden,

Atau apapun caraku memanggilmu. Apapunlah. Mungkin kamu juga tidak akan menghiraukan catatanku ini. Ini hanya agar kamu tahu bahwa aku telah “belajar dengan giat” untuk menerima segala kekurangan dan kelebihanmu dari tahun ke tahun, masa lalu dan msa depanmu kelak. Aku hanya ingin selalu merasa dekat denganmu sejauh apapun jarak yang masih terbentang antara kamu dan aku. Jadi, biarlah aku tetap memanggilmu seperti itu, walaupun sebenarnya kamu tidak tau.

Aden,

Jangan marah ya. Jika kamu membaca ini, kamu hanya boleh tersenyum. Selamat malam.