12 Agustus 2010

. ANDREA .

Semua berawal dari sini...


Hai malam,
Mengapa kau selalu bisu?
Padahal dinding dinding besar itu juga bisu
Mereka diam sejuta bahasa
Meskipun dibaliknya tersimpan cerita
Wahai malam,
Berkatalah kau meski hanya mendesis
Aku bosan berdiam dalam sepimu
atau sesekali melihatmu tenggelam dalam hujan yang gemerciknya terkadang berisik

Malam,
Bicarakan saja semua yang kau rahasiakan padaku
Apa selama ini aku pernah menutupi semuanya darimu?
Aku berbagi suka ku di tengah malam dan kau hanya diam
Aku bermuram durja di tengah malampun kau masih saja tak kasihan

Oh malam,
Ceritakan tentang hidup mereka di bawah jembatan yang berselimut dingin
Agar aku sadar betapa mereka tak seberuntung aku
Ceritakan tentang mereka yang mengais rezeki di bawah bias lampu kota
Agar aku tau betapa sebenarnya mereka enggan bernasib kekurangan
Ceritakan aku mereka yang masih berjalan tanpa arah dan alas kaki
Agar aku tau betapa berharganya arti keluarga
Ceritakan aku jalan mereka yang tak selalu mulus dan sangat penuh derita
Agar aku tau betapa aku harus bersyukur

Duhai malam,
Andai kau dapat bercerita
Dongengkan aku kisah nirmala dahulu kala
Karena sejak malam malam kau hadirkan
Banyak kisah beterbangan
Tapi masih saja buatmu diam

Malam...


Jari-jari lentik Andrea menari diatas keyboard laptop dengan terarah. Pikirannya melesat jauh keluar ruang dan mencari apa saja yang bisa dia tulis malam ini. Andrea memang gadis yang dingin. Dia akan bicara seperlunya pada orang lain dan jika tidak ada yang dibutuhkan maka dia akan diam seribu satu bahasa. Maka dari itu,Andrea lebih senang menuliskan apa saja yang ada dibenaknya daripada membicarakannya pada seseorang karena meskipun orangnya cenderung pendiam,diaseringkali mengaku bahwa dirinya adalah pengkhayal bodoh, pemimpi yang tak tahudiri tentang memimpikan siapa dan waktunya kapan, juga pengimajiner yang sangat abstrak tapi sensitif.

Selain senang menulis, Andrea adalah orang yang senang menyendiri setelah melakukan aktifitas diluar kandang kebesarannya, kamar tidurnya. Dia akan mencerna apa yang dia pelajari setiap harinya dengan duduk di pinggir jendela kamarnya sambil meminum segelas susu dan lantunan musik menenangkan seperti musiknya Saosin dan The Used (menenangkan?are you sure?).

Apa hari ini aku menjadi manusia yang baik?

Selalu itu yang Dre, panggilan akrabnya tanyakan pada cermin di sisi meja belajarnya yang telah dua tahun in menjadi singgasana pertemuan antara emosi dan inspirasi, amarah dan inspirasi, kekecewaan dan inspirasi, kesenangan dengan inspirasi, angin malam dan inspirasi, kesendirian dengan inspirasi, kerinduan dengan inspirasi, cinta dengan inspirasi, lamunan dengan inspirasi, hingga kekosongan dengan inspirasi. Selalu dengan inspirasi, dan Dre mulai menulis halyang tak beraturan lagi di dalam note laptopnya.

Tuhan apa ini jalan yang baik untukku? apa aku berdosa selama ini?

Terbersitlah dari kedipan matanya, Dre sedang berusaha menguatkan sesuatu. Sesuatu yang dari dulu selalu mengusik kesendirianya, hal yang harusnya dia sesali tapi masih saja dia berusaha melawan penyesalan karena dalam benaknya tak boleh ada penyesalan sedikitpun dalam hidupnya, apapun. Sejak 2 tahun yang lalu diapergi, hal inilah yang selalu berhasil membuat gadis 22 tahun ini menitikan airmata sampai terisak-isak.

Adalah Aldo, lelaki yang banyak dikagumi perempuan berambut panjang, ber-high heels, ber-blackberry, dan anggun semampai yang selalu bernafsu mendekati pria berambut sepundak hitam ikal dengan tinggi 175 cm dan yang namanya sering tercetak di piagam penghargaan sebagai Most Valueble Player dalam banyak pertandingan basket. Aldo hanya tersenyum ramah setiap ada wanita-wanita girang yang dengan gaya centilnya menyapa,"Hai Aldo, pa kabar?", atau "Hai Do, ganteng banget kamu hari ini...".

...dan sore itu Dre sendiri di lapang basket kampus, memainkan bola basket Spalding oranye yang banyak bertuliskan curahan-curahan hati pemiliknya. Sesekali dia mendribble bola itu lebih keras dari biasanya, membantingnya dan menghempaskannya ke sisi lapangan yang lain, lalu dia kejar, lalu dia dribble lalu dia hempas lagi ke ring dan ditangkap, di dribble, di banting, di hempas,selalu begitu. Memang selalu seperti itu hampir disetiap sore yang cerah,karena baginya adalah momment yang sakral melewatkan detik-detik jingga yang mulai menurun di pelupuk awan di bagian barat dilapang basket yang sudah sangat akrab dengannya dari umur 10 tahun. Hanya mungkin perasaannya yang selalu berbeda. Dari kejauhan, dua bola mata hitam mengamati.

"Aku memang rindu alam bebas. tapi aku juga rindu...."

"Hai!"sapa seseorang dibalik tiang ringdengan riang dan berhasil membuyarkan lamunan Dre ditengah setengah lingkaran three point dihadapan tiang.

"Apa ini yang lo selalu lakuin di sore hari yang cerah? mau berbagi bola sama gue?" katanya berusaha mengakrabkan suasana tapi tidak begitu berhasil menghilangkan kerutan bingung diwajah Dre.

"Kenapa?lo gak tau gue?"

Demi dewa peyelamat wanita-wanita penuh perasaan, pede banget ni orang.

"Gue Aldo. Kayaknya kita sekampus ya, tapi gue cuma ngeliat lo di lapang basket doang akhir-akhir ini?"

Dre kesal karena waktu menyendirinya berhasil di invasi secara mendadak oleh makhluk aneh yang belum dia kenal ini. Bola basket yang ada di genggamannya seketika dia passing ke arah Aldo dan berhasil ditangkapnya dengan sempurna.

"Jadi lo berharap bakal ketemu gue lagi selain di lapang ini?"jawab Dre dingin.

"Waw,ternyata lo masih lebih PD dari gue yaaa.... hahahaaa....." Aldo perlahan-lahan memainkan bola, mendribble dan menggiringnya mendekati tubuh Dre yang jelas-jelas lebih pendek 12 cm darinya. Dre tiba-tiba tidak bisa berkutik dan mengalihkan kelemahannya dengan memasang kuda-kuda diffense.

"Lo tau, bola ini cuma bisa masuk ke ring dengan sempurna kalo lo mengendalikannya dengan hati, bukan dengan emosi." kata Aldo tenang. Dre masih tidak bisa berkata apa-apa selain mengernyitkan kembali dahinya. Menyiratkan makna perkataan,maksud lo!?

"Gue gak butuh lo ajarin tentang basket." jawab Dre datar.

"Gue gak ngajarin lo soal basket. Gue ngajarin lo soal kehidupan. Pikirin lagi." dengan gaya sok cool Aldo take offense dan berhasil melewati dinding pertahanan Dre, menggiring bola mendekati ring dan shot.... masuk dengan sempurna. Aldo pun perlahan menghilang dari lapang basket itu seiring dengan sore yang jingganya makin menghilang.

***

Lo tau, bola ini cuma bisa masuk ke ring dengan sempurna kalo lo mengendalikannyadengan hati, bukan dengan emosi.

Rasa-rasanya selama perjalanan pulang ke kamar kost-nya, hanya kalimat itu yang teringat dibenak Dre. Entah kenapa, membuat Dre terpaksa untuk berpikir keras apa maksud perkataan Aldo tadi. Sampai waktu tidurnya tiba, Dre masih duduk terpaku memikirkan pengalaman ajaibnya tadi sore.

"Maaf Tuhan, aku masih saja belum peka.." bisik Dre dalam hati.


Esoknya di kursi teras cafe dekat kampus....

Andrea sedang serius menari-narikan jemarinya diatas keyboard laptop hitam kesayangannya dibalut baju t'shirt hitam dan celana Levis favoritnya, yang tak boleh terlupakan dari penampilannya adalah kesetiaanya dengan sepatu converse all stars classic hitam putih yang selalu dia bilang sepatu terwajar sepanjang masa. Hahahahaaa...

Bukan Andrea Gibrani Azalea namanya kalo harus berpenampilan feminin untuk waktu-waktu yang tidak spesial. Dia akan selalu memilih menjadi perempuan yang anak-anak kelasnya dikampus bilang tomboy daripada dipuji anggun dan menawan. Itu bukan ciri khasnya.

Secangkir hot chocolate menjadi teman yang baik disaat segala perasaannya ingin dia tumpahkan. Kuliahnya yang datar-datar saja, perasaannya yang berantakan kesana kemari, termasuk pengalaman ajaibnya sore tempo hari. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam dia dengan tidak sengaja selalu menghapal air muka lelaki sok kenal yang menghampirinya kemarin, juga dengan kata-katanya yang buat Dre berpikir keras semalaman tapi belum juga menemukan maksud dari perkataan itu.

"Semoga kita tidak berjodoh hanya karena gue ngeliat lo disini." suara lelaki dengan nada percaya dirinya, yang sepertinya dia kenal mengusik imajinasinya yang sedang melayang-layang ke banyak sisi-sisi kehidupan yang sebenarnya jarang terjamah bahkan oleh Dre sendiri.

"Lo lagi." suara Dre menyambut datar.
"Iya gue lagi. Seneng ya lo ketemu gue?"
"You wish!"
"Jutek."
"Bodo amat."
"Miss Datar."
"Terserah gue."
"Sombong."
"Emang."
"Cantik."
"....."

seketika air muka Andrea berubah panik, tapi dia berusaha menutupinya dengan melanjutkan kembali ketikan-ketikan di laptopnya dengan asal. Konsentrasinya menghilang...

"Dasar cewek, dipuji dikit aja langsung ilang kontrol."

"Enggak berlaku sama gue." sanggah Dre mencoba menutupi.

"Whatever. Lo ikut gue sekarang.."Tanpa banyak basa-basi ba bi bu be bo Aldo menarik tangan Andrea tanpa mempersilahkan gadis di depannya untuk menolak.Dengan segera Aldo membereskan bawaan Andrea, tas ransel berisi buku-buku dan laptop kesayangannya yang lansung Dre dekap erat didadanya.

"Lo mau bawa gue kemana heh?" nada bicara Dre seketika meninggi.Aldo tetap dalam langkahnya yang tegas dan tenang dengan sadar meggenggam tangan seorang perempuan dengan beribu rahasia di dalam hatinya. Bibirnya diam-diam tersenyum tipis.

Mobil sedan hitam bernomor polisi D 888 DO melesat memasuki perbukitan yang diatasnya bertengger vila-vila mewah bergaya minimalis dengan dominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Disekelilingnya terhampar hijau rerumputan, dedaunan dan pohon-pohon pinus yang menjulang lebih mirip pasukan penghalau galau (gak nyambung!blaarrr**). Rasanya ingin sekali Andrea berdecak kagum diantara sejuknya hawa disana, tapi dia keburu kesal dengan tingkah laku lelaki aneh dipinggirnya yang sedang menyetir entah sampai mana. Andrea juga kehilangan inisiatif untuk mencari tahu kemana dia akan diculiknya nanti.

"Semoga saya selalu dalam keselamatanMu ya Tuhan..."bisik Andrea sambil mengantisipasi hal paling buruk yang akan terjadi.Sampailah mereka disebuah bukit yang tinggi dengan satu rumah kokoh minimalis dengan banyak jendela berkaca disetiap sisinya. Mobil Aldo diparkirkan persis di pekarangan dengan pemandangan bunga melati yang harumnya sangat khas tercium di hidung Andrea. Terlihat diantaranya, kupu-kupu bermain di putik-putik mawar putih segar dan cantik. Bunga melati, mawar putih, dan juga kupu-kupu itu mengingatkan Andrea pada sesuatu. Sesuatu yang membawa dia menerawang masa lalu.

Kupu-kupu yang lucu, kemana engkau pergi... hilir mudik mencari, bunga-bunga yang indah..Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah... tidakkah oh sayapmu, merasa lelah...

"Bunda.." lirih Dre mengingat nyanyian itu,berkata pada burung yang mengepak sayap bebas terbang kemanapun hatinya suka. Di dalam hatinya dia merasa menjadi burung yang gagal. Burung yang dengan keyakinan hatinya ingin terbang bebas namun rapuh kemudian ketika tahu bahwa kebebasan bukan jalan satu-satunya untuk menemukan kesenangan dan kemandirian yang dari dulu ia tekadkan.

"Heh. Ngapain lo diem disitu? takut gue perkosa kalo gue ajak lo masuk?" teriak Aldo dari teras rumahnya.

Masih dengan muka yang datar, Andrea menjawab,"Ngajak gue masuk aja belom."


15.40

Jam dinding yang bergaya minimalis dengan aksen hitam putih Andrea tatap tajam-tajam dan beruaha mengingat sesuatu. Biasanya di waktu yang sama dia sedang berlarian di tempat yang selalu membuat dia lupa daratan oleh beban-beban hidupnya yang seakan makin menghimpit otaknya dan tak lama lagi akan memecahkan satu-satunya alat untuk berpikir dan berinspirasi. Bola yang menjadi teman curhat kedua setelah laptop sore ini tidak dimainkannya, dengan sangat menyesal dia berucap rendah,"Harusnya gue dilapang basket sekarang.."Aldo yang mendengar perkataan wanita yang berjalan di belakangnya itu hanya tersenyum-senyum puas atas penyesalan Andrea."Lo boleh nyesel gak bisa maen sama bola basket kesayangan lo sore ini dan gak bisa lari-lari gak jelas dilapang basket kampus kesayangan lo itu, tapi sebentar lagi gue rasa penyesalan lo bakal musnah secara tiba-tiba. Dazzzz!"

Andrea tidak menggubris apa yang dikatakan oleh anak baru yang secara lancang masuk ke dalam kehidupan nya itu tanpa permisi. Andrea tetap mengamati pemandangan sekitarnya yang membuat dia sebenarnya sedikit lebih nyaman. Sebuah rumah yang rapi, bersih dan wangi tipe Andrea. Kursi dan meja yang tertata oleh pot bunga kecil bermawar di tengahnya dan lukisan-lukisan abstrak yang sebenarnya Andrea sendiri tidak tau makna nya apa. Satu yang Andrea tau tentang hal abstrak adalah kebebasan. Kebebasan memilih unsur warna dan sketsa-sketsa tanpa melupakan keindahan sebuah seni. ebebasan untuk menentukan sumber inspirasi. Kebebsan untuk memilih alur cerita dari lukisan itu sendiri. Kebebasan untuk menggoreskan kuasnya kemana hati menyuruh. Sepertinya kata 'kebebasan' itu juga yang selalu membuat aliran Andrea terasa berdesir-desir seperti seonggok batu diterjang ombak dipinggir laut yang sewaktu-waktu bisa terkikis dan didera rasa bersalah yang tak menipis semilimeterpun. Andrea membingkai dirinya sendiri.

"Oke, mungkin ini tempat ideal untuk kita sore ini."
Aldo dengan santai membukakan pintu berkaca transparan dan angin sore dengan sigap menyapu rambut panjang ikal Andrea. Pemandangan yang tidak akan pernah dibayangkan Andrea sebelumnya. Satu lapangan basket outdoor standar dikelilingi pohon pinus yang menghijau. Wangi disekitarnya sekiranya telah ia kenal sejak lama. Mawar melati yang berseri menyambut tamu baru dirumah kediaman Aldo. Disekitarnya tumbuh rumput-rumput yang mulai nakal dan terlihat belum juga dipangkas rapi oleh empunya rumah. Andrea tertegun. Diam. Menikmati apa yang ada dihadapannya sekarang.

"Lapang basket...."
"Jadi sekarang lo gak usah nyesel lagi gak nengokin si lapang basket kampus. Lo bisa main disini sampe matahari terbenam. Itu kan ritual sore lo di lapangan?"
Andrea hanya mengangguk masih setengah tak percaya lelaki yang sok tahu dan sok percaya diri ini akan mengajaknya ke tempat seindah ini. Bagi Andrea, asal ada lapang basket, semuanya bisa dibilang indah. Mungkin mawar melati adalah bonusnya. Tanpa sadar, senyum pun merekah diwajah polos Andrea.
"Nah berhubung lo udah nemuin surga dunia lo, jadi sekarang gue mau ngambilin lo minuman dulu dan lo stay aja disini. "
Tidak ada alasan untuk Andrea pergi tiba-tiba dari tempat senyaman ini. Di tengah lapangan itu, terduduklah sebuah bola basket yang dia cari dari setiap sudut tempat outdoor itu. Segera Andrea berlari ke tengah lapangan, berdiri sejenak dan merasakan betapa damainya nyanyian sore kala itu. Betapa hangatnya sinar yang memandikannya dan betapa ingin ia melukis semua dalam ingatannya. Ada secercah senyum ia simpulkan dan berpikir ternyata Aldo tidak seburuk dan sesombong yang ia kira.Diambilah bola yang masih menganggur menunggu untuk dimainkan oleh seseorang. Andrea mulai memutar-mutar bola yang terlihat masih baru itu dengan wajah yang cerah, lebih cerah dari biasanya. Dimainkanlah bola itu, di dribble ke beberapa sudut disana, melompat seiring dengan dentuman bolanya, berlari, melangkah melayang dan memasukan bola ke ring, me-rebound, berlari-lari seperti anak kecil kegirangan dan terus seperti itu hingga... Aldo memecahkan keantengan perempuan yang senang menyendiri itu.
"Emang lapang bikin lo lupa daratan yaaa..." sergap Aldo.
"Entah kenapa gue selalu lupa diri setiap dihadapkan dengan kesendirian." jawab Andrea disertai tawa ringan.
"Orang aneh. Disaat orang lain lupa diri dengan segala keramaian dunia, lo malah bisa lupa diri ditengah kesendirian."
Andrea lagi-lagi hanya tersenyum manis dan mengambil segelas orange juice ditangan Aldo dengan segera.
"Siapa suruh lo ngambil gelas itu?"
"Diem-diem gini gue adalah orang yang penuh dengan inisiatif."
"Bilang aja lo kehausan."
"Kalo lo tau gue kehausan kenapa basa-basi dari tadi?"Aldo langsung diam ditembak pernyataan yang buat otaknya stuck tak bisa terbang mencari kata-kata apa lagi untuk wanita aneh yang ada didepannya itu sekarang.

Tanpa komando mereka berdua beriringan menuju lingkaran persis di tengah lapang basket dan menyerahkan badan mereka ditempat itu. Semilir angin masih ingin mereka berdua rasakan tanpa berkata apapun. Andrea dan Aldo menerawang hal-hal dalam benaknya masing-masing dan merasakan sesuatu yang merasuki dadanya melegakan panas yang terasa menjamur didirinya masing-masing. Dengan tenang mereka terduduk dan memejamkan matanya, membiarkan rambutnya disapu gelombang kedamaian yang membungkukan kepalanya. Dalam heningnya suasana dan tenangnya mereka diantara koridor mimpi masing-masing, Aldo membuka pembicaraan,
"Damai kan?"
"Iya."
"Disini gue biasa mencari ketenangan disaat segala hal yang lain memusingkan gue."
"Rumah ini?"
"Keluarga gue sering dinas keluar negeri.Gue disini tinggal sama adik gue."
"Oooh.."
Lama mereka berbincang hingga tak sadar bahwa matahari sore akan segera urung dari tugasnya menyengat bumi. Bayang-bayang senja mulai terlukis di dataran tanah yang mulai mengering. Dan dua manusia yang baru saja saling mengenal satu sama lain masih saja nyaman dengan pembicaraannya yang ngalor ngidul.
"Gue kira lo bakalan terus jutek sama gue setelah lo kenal gue." ucap Aldo.
"Kondisional lah. Awas aja kalo lo macem-macem."
"Weeets, santai nyonya. Oiya, kenapa sih lo seneng banget keadaan kayak gini?"
"Keadaaan kayak gini?"
"Iya. Lapang basket, matahari senja,angin sore."
"Ada yang kurang sebenernya..."
"Apa lagi?"
"Wangi tanah setelah hujan."
Hening. Tak ada lagi kata-kata yang ingin Aldo ucapkan begitu mendengar betapa terlihat sangat unik selera teman barunya itu. Teman baru yang tak pernah ia perlakukan sebaik pada teman-teman baru sebelumnya.Setelah mereka berdua menyaksikan tontotan gratis lukisan jingga menurun di langit barat, angin malam mulai menusuk dan mereka memutuskan untuk masuk kedalam ruangan yang lebih hangat. Secangkir teh mereka nikmati dibawah temaram lampu meja makan dan mereka terus menebar senyum dari obrolan-obrolan apapun yang terpikir di benaknya untuk sekedar mengakrabkan satu sama lain. Dalam benak Andrea, tak pernah ia berpikir untuk berbicara banyak tentang dirinya pada orang baru dalam hidupnya, sampai pada jam 8 malam,
"Gue anter lo pulang ya..."
"Yaiyalah, lo yang udah nyulik gue kesini, berarti lo juga harus tanggung jawab nganter gue pulang!"
"Diem-diem lo nyolot juga, tomboy."
"Emang."
"Whatever.. Kemmooon.."

Mobil yang mereka tumpangi menghilang ditelan gelap, melesat ditengah hujan yang mulai mengundang. Mengundang rintik yang tiap detiknya bisa semakin menderas. Mengundang hawa yang lebih dingin dari biasanya. Mengundang mereka berdua untuk berjalan perlahan pada imajinasinya masing-masing.

Malam ini mereka membingkai kejadian apa saja yang telah mereka lewati dari tadi siang. Peristiwa-peristiwa tak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya bahwa begitu cepat chemistry terbentuk dalam diri mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang ke kostan Andrea, hujan yang turun mulai menderas dan bias lampu-lampu jalan terlihat artistik diluar jendela mobil.
"Ya ampun kenapa harus ujan sih, padahal ini kan bulan Juni."
"Gak usah protes kalo ujan turun, lo liat ujan besar bisa jadi kebahagiaan buat anak-anak kecil itu." Lalu Andrea menunjuk sekumpulan anak kecil menari-nari dengan bertelanjang dada dibawah hujan yang deras dengan tawa yang lepas, sesekali memainkan kubangan air yang berada didekat mereka atau air yang mengalir ke bagian jalan yang lebih rendah. Tidak ada beban di muka mereka, tidak ada rasa keberatan dengan hujan malam ini. Mereka lebih terlihat seperti kodok yang senang bila hujan turun.
"Liat kan, mereka yang kekurangan masih bisa dapet kebahagiaan gratis,bonusnya adalah mandi gratis gara-gara hujan turun." kata Andrea sambil menyimpulkan sebilah senyum di mulut tipisnya.
Seketika terjadi degupan jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya ketika melihat senyum yang dibingkai Andrea dimukanya. Perasaan itu dengan secepatnya Aldo lawan dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja dan antara mereka hanya perkenalan biasa yang akan berlanjut seperti keadaan yang biasa juga.

Setengah jam mereka melintasi jalan ibukota yang masih padat dengan kendaraan yang beraktivitas sampai akhirnya mobil sedan itu menepi di sebuah kostan dengan bangunan besar bergaya klasik, terdiri dari banyak kamar yang para penghuninya sendiripun jarang bergaul dengan penghuni lainnya.
"Mungkin mereka punya kesibukan masing-masing..." kata Andrea menjawab pertanyaan Aldo tentang orang-orang pengisi kamar-kamar yang berderet di koridor gedung depan.
"Lagipula, begini lebih nyaman. Hidup gue gak banyak terusik dengan kegaduhan atau suara berisik." tambahnya.
"Seanti sosialkah lo?" sergap Aldo langsung sambil mencibir.
"Kata siapa?"
"Kata gue barusan."
"Gak tau aja lo."
Walaupun Andrea tergolong sebagai spesies manusia introvert, dia tidak lantas menjadi orang yang anti sosial. Di kampusnya Andrea mempunyai banyak teman dan dia juga senang berorganisasi ataupun sekedar membantu teman-temannya jika mengadakan sebuah acara. Selain koleksi koneksinya, dia juga terkenal mahasiswa yang gesit dan tidak peduli apapun yang menghadang apa yang sedang menjadi tugasnya. Perempuan ini adalah orang yang perfeksionis tapi juga masih bisa fleksibel menempatkan diri, kecuali jika dia sendiri sudah sangat merasa tidak nyaman. Sama seperti Aldo yang senang bergaul dengan kalangan manapun. Hanya perbedaannya, Andrea lebih dingin dan introvert, sedangkan Aldo lebih masuk dalam tipe extrovert.
"Makasih udah nganterin gue." ucap Andrea datar tapi tulus.
"No problemo nyonya."

Kembalilah Dre ke kerajaan besarnya. Kamar yang cukup luas untuk menampung segala imajinasi yang beterbangan di udara tanpa membuatnya sesak. Hanya satu hal yang membuatnya sesak ketika berdiri di ubin kamarnya itu. Sebesar apapun dan sebanyak apapun yang telah dia miliki sekarang, hatinya tetap hampa dan selalu menerawang kembali ke masa lalu setiap pertama masuk pintu kamarnya. Seperti ada kata-kata terbang yang menyentil perasaannya, karena kamar ini nyatanya telah menabung seluruh rasa senang, hingga tangis yang mengingatnya pada satu tempat. Rumah.
Kemampuannya untuk mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya dengan lelaki baru bernama Aldo itu seketika terlupakan, entah menguap kemana ketika dia membuka laptop dan melihat wallpaper yang terpampang adalah foto keluarganya. Dalam note dia mengetikan catatan singkat yang mengalir dari beban benaknya setiap malam,

kemana akan aku pergi esok hari
membawa hantu masa lalu yang tak kunjung pergi dari benak ku
membuat langkahku serasa terisak-isak terkadang
bayang-bayang kelam yang selalu tiba-tiba menghunjam kedalam hati
dan mendarah daging tak bisa lenyap
bisakah aku lari dari semuanya
bukan lari dari kenyataan
tapi berlari jauh untuk kembali
kembali memeluk akar penyesalan yang tak seharusnya aku tumbuhkan
Tuhan tolong bawa aku kembali perlahan
aku ingin tertunduk di simpuhannya
biarkan mereka berkata
akulah si sombong yang angkuh
akulah putri yang pengecut
akulah manusia yang tak tahu diri
akulah burung yang gagal terbang bebas


Andrea tertunduk lunglai dan segera merebahkan dirinya di tempat tidur. Merasakan kelelahan yang biasa dia rasakan setiap malam. Lelah fisik, lelah pikiran, dan lelah perasaan. Tapi kelelahan malam ini mungkin sedikit terobati setelah dia mengingat dengan tidak sengaja lukisan abstrak, senja hari, bau tanah sehabis hujan, lapang basket, dan Aldo... dalam ingatannya yang dia bingkai sendiri, mengatuplah mata lelahnya dalam sepi yang mungkin akan menghilang esok hari.

***

Hari berikutnya dan hampir setiap Andrea nongkrong di lapangan basket, Aldo selalu menemani Andrea meskipun hanya sekedar melihatnya di pinggir lapang. Kekakuan diantara mereka semakin mencair layaknya dua orang yang telah mengenal lama. Andrea pun tak sungkan lagi bila berhadapan dengan Aldo. Dia yang seringkali dingin menghadapi orang-orang kali ini terlihat lebih ceria dan bahagia menjalani hidupnya, seperti tidak ada beban memuncak yang dia taruh di otaknya. Terlebih karena adanya Aldo.


Lapangan basket kampus dua minggu kemudian...

Tidak biasanya Aldo tidak datang sore ini, membuat matahari senja kini terlihat lebih pucat, sepucat perasaan Andrea. Sementara menunggu harap-harap cemas, Dre masih saja memainkan bola basket dengan serampangan dan asal, otaknya terus memikirkan satu pertanyaan, kemana Aldo... dan hingga matahari menurun, Aldo tidak nampak juga.
Dre terduduk lunglai di tengah lapang, seakan setengah energinya terbang entah kemana, Dre pun tak tahu kenapa. Dirasanya, tak ada lagi yang bisa menahan dia untuk bertahan di lapang itu. Namun ketika Dre berdiri dari duduknya,dan menuju pintu gerbang lapang dengan gontai, mobil Aldo terparkir tiba-tiba di pinggir jalanan kampus dan Aldo keluar dengan muka yang kusut, tak berselera. Dre berusaha menata kembali perasaan khawatirnya dan tetap bersikap datar.
"Dari mana Do?"
"Dari rumah."
"Kenapa muka lo?"
"Ada hal yang pengen gue ceritain."
Niat Dre untuk pulang ke kostan nya ter pending karena kedatangan Aldo. Hingga burung kelelawar muncul, mereka saling bercerita di tengah lingkaran lapang dengan muka tertunduk, Aldo terlihat sedih.
"Gue pergi dari rumah,nyokap bokap gue ngerencanain mau ngejodohin gue sama anaknya temen lama mereka." kata Aldo lemas.
"Trus kenapa lo harus kayak gini?" tanya Andrea heran.
"Gue gak suka dijodohin bego! dan gue lebih dibegoin lagi, baru dikasih tau hari ini setelah rencana mereka yang udah tercetus 2 tahun lalu. Shit meeeen!"
Mendengar ucapan Aldo barusan rasanya hati Dre luluh lantah berserakan entah kemana. Bukan karena menghadapi kenyataan sahabatnya barunya itu dijodohkan dengan wanita lain, tapi ceritanya mengingatkan kembali alasan kenapa Andrea juga pergi dari rumahnya 2 tahun silam. Sama persis.
"Gue juga...." ucap Andrea sambil tertunduk.
"Kenapa lo tomboy?"
"Gue pergi 2 tahun yang lalu dari rumah karena alasan yang sama kayak lo."
"Serius lo?"
mendengar pernyataan itu, Aldo kontan kaget tidak menyangka bahwa nasibnya akan sama dengan sahabatnya.
"Jadi selama ini lo kabur dari rumah?"
"Bukan kabur, tapi pergi..."
...dan kesedihan yang menyelimuti mereka masih menjadi awan mendung diatas bayangan masing-masing hingga membawa mereka masing-masing untuk pulang. Andrea ke kostan nya dan Aldo, entah kemana. Menelusuri jalanan ibukota tanpa tau akan singgah dimana dirinya.Tiba-tiba dering handphone Aldo berbunyi, tanpa melihat layar nya Aldo langsung mengangkat telepon,
"Nak... pulang ya nak... Mama khawatir..." suara sayu ibunya merubah air muka Aldo menjadi semakin murung. Menyesal.


Sementara itu, di kamar Andrea...

Andrea sedang asik menikmati bintang yang bertaburan diluar jendelanya. Pemandangan yang bagus untuk hati yang sedang tak tau mau dibawa kemana arahnya. Segala macam rasa berkecamuk disitu. Andrea pun tiba-tiba teringat beberapa hal yang telah dilaluinya. Perjodohan, Aldo, dan....
"Astaga! Kenapa gue baru inget!" satu hal terakhir yang benar-benar mengagetkan mata bathin Andrea bahwa selama ini, Aldo yang dia anggap sahabat barunya ternyata belum pernah memanggil namanya barang sekalipun selain panggilan si tomboy.
"Dia kan belum tau nama gue..."
seketika badannya melemah dan matanya mengedip sayu tak karuan. Ingin rasanya dia tak mempedulikannya, tapi bagaimana mungkin orang terdekatnya saat ini belum identitas Andrea yang sebenarnya.

Andrea masih sibuk melamun ketika suara chat di laptopnya berbunyi buzz,
"HEH DRE! GUE KANGEN SAMA LO, pulang dong adikku sayang.. 2 kali puasa dua kali lebaran kamu gak pernah pulang keluarga pun tak senaaaaang..syalalalalaaa." Andre, kakak satu-satunya yang masih tinggal dirumah mencoba membuka pembicaraan dengan Dre lewat chatting nya yang seringkali dilakukan tapi tak perah digubris sama sekali. Baru malam ini Dre terdorong untuk me replay message chat itu.
"Gak usah ngelawak lo Ndre."
"Nah,terus apalagi dong yang bisa menghalangi jalan lo untuk pulang? Kuliah? aaaah lo kayak yang rajin aja kuliah, pulang lah sebentar aja. Nyokap lo kangennya setengah mati, sedihnya juga setengah mati kehilangan anak tomboy satu-satunya ini."

Bunda kangen sama aku?

Pikiran itu terlintas tiba-tiba saja dibenak. Diacuhkannya layar laptop oleh Andrea dan dengan dorongan hatinya dia mengambil handphone yang sedari tadi berada tidak jauh dari tangannya, mencari satu nama di kontaknya dan,

connecting to BUNDA

Tak terasa pipinya tertetesi air mata yang tak tertahankan. Air mata yang berbeda. Air mata kerinduan. Air mata penyesalan.
"Bun..."


Siang hari, di pelataran kampus...

Hari ini Aldo kembali dengan senyum yang biasa menghiasi wajah tampannya. Tak terlihat jelas apa yang sedang menjadi bebannya akhir-akhir ini, tapi Aldo hanya ingin melihat satu wajah yang tiga hari yang lalu menghilang tak Nampak batang rambutnya. Perempuan pendiam yang kini telah berstatus sahabat dengan waktu yang tidak lama. Aldo sendiri kurang percaya dengan perasaannya, kenapa perempuan satu ini begitu cepat menyita perhatiannya sebulan terakhir ini.Padahal kenyataannya, mengenal namanya pun Aldo belum. Aneh. Tapi keinginannya untuk segera menemukan sosok yang dicarinya menghilangkan niatan untuk mempertanyakan siapa nama sebenarnya. "Apalah arti sebuah nama, tomboy..."ucapnya dalam hati.
Hingga senja Aldo masih terduduk ditaman kampus yang bersebalahan dengan lapang basket dan perempuan yang dicarinya rupanya tak datang juga hari ini. Aldo masih harap-harap cemas,memutar otak dan berpikir dimana dia dapat menemukannya. Terlintaslah satu tempat, kafé yang biasa perempuan itu kunjungi beberapa minggu lalu, tepat dua hari setelah mereka bertemu. Berjalanlah Aldo menuju tempat duduk yang biasa disinggahi oleh orang yang dicarinya, namun dia tidak menemukan siapapun disana. Juga disudut yang lainnya. Harapannya menipis perlahan.
"Gue harus cari dia sampai ketemu!"tekad Aldo dalam hati, yang akhirnya membawa dia ke tempat yang menjadi harapan terakhirnya, kostan yang terletak tak jauh dari kampus yang selalu jadi persinggahan terakhir setiap Aldo mengantar gadis tomboy itu pulang. Dia melangkah dengan menggantungkan harapan bahwa orang yang dicarinya berada disini. Namun lagi-lagi, semua seolah terhempas ombak dan menghilang. Dia baru menyadari bahwa bagaimana bisa dia mencari orang yang dia harapkan di kostan berisi 117 kamar tanpa tahu siapa nama orang yang dia ingin temui. Dengan sangat terpaksa dan badan mulai melelah, dia beranjak kembali ke mobilnya dan melesat kembali ke rumahnya dengan enggan.

Tomboy, kemana kamu?
Aku merasa kehilangan setengah dari kekuatanku akhir-akhir ini.
Rasanya aku mulai menyesal tak mempedulikan namamu siapa.
Kenapa tak kutanyakan siapa kamu sebenarnya?
Seindah apa kamu kini dibenakku hinggahanya ada kamu dipikiranku sekarang?
Selalu kamu.
Tomboy, aku rindu...


Lapangan basket rumah Aldo...

Beberapa hari ini terlewati tanpa adanya perubahan. Aldo masih kebingungan mencari kemana si tomboy pergi hingga tak bisa dia temukan dengan mudah di lapang basket atau kafe dekat kampus. Aldo hampir putus asa, dan hari ini mukanya murung tak pernah berubah. Dia pun tak banyak bicara,hanya sesekali melamun. Dalam benaknya timbul bayangan ketika pertama kali mengajak si tomboy bermain di lapang basket rumahnya. Melihatnya dilapang itu, sama dengan melihat sisi dirinya yang lain, yang beda dan terlihat polos.

Dibelakangnya, mama Aldo tiba-tiba datang. "Aldo, minggu ini mama akan mengadakan pertemuan dengan teman lama mama yang pernah mama ceritakan. Kamu ikut ya? Soalnya anaknya teman mama itu juga akan datang, nanti mama kenalkankamu dengan dia."
Tanpa banyak mengadakan perlawan,Aldo mengiyakan perkataan mamanya dengan enggan. Aldo takut jika melawan lagi,mamanya akan kecewa dengannya dan menahan rasa sakit hatinya di dalam hati,membeku, membusuk, dan menyebabkan mamanya yang sudah berusia 45 tahun itu stress.
"Jangan lupa ya nak."
"Iya mah..."
Aldo kembali ditinggal sendiri olehmamanya. Mamanya adalah tipe orang yang senang bekerja hingga larut malam. Jika tidak dikantor, pekerjaannya dia bawa kerumah untuk selanjutnya dikerjakan diruangan kerjanya. Kesibukan orang tua nya membuat Aldo tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Aldo memilih pasrah.

Tomboy, kamu dimana? Aku ingin bicara. Aku ingin tertawa diatas tekanan ini. Bersama kamu. Tertawa diatas pedih.


Minggu terakhir di Bulan Juni...


Aldo mematung di depan cermin,merapikan kemeja biru muda nya dipadankan dengan celana jeans Levis dan sepatu crocs. Hari ini hari Minggu dan dia akan ikut orang tua nya ke suatu pertemuan yang sebenarnya tidak dia harapkan untuk hadir. Namun dia masih saja menguatkan dirinya untuk tidak membuat orang tuanya kecewa. Menguatkan dirinya menghadapi kenyataan berhadapan dengan suatu perjodohan yang tidak dia inginkan. Menguatkan diri dari ketiadaan si tomboy akhir-akhir ini.

"Aldo sayang, ayo kita berangkat..."
Teriakan mamanya dari lantai bawah membuyarkan lamunan alam bawah sadar Aldo yang dari tadi menjadi tempat dia bermain-main dengan bayang-bayang si tomboy. Tomboy, aku pergi bertemu dia yang akan mereka jodohkan. Andaikan ada keajaiban dan kamu disana, menjadi orang yang akan mereka jodohkan, aku ikhlas! Aldo berkata lirih sambil tersenyum miris.
Satu jam cukup untuk keluarga Aldo habiskan selama perjalanan di dalam ibukota yang macet. Maklum, ini hari minggu dimana orang-orang bisa bertambah dua kali lipat sekedar untuk liburan keluar kandang masing-masing. Aldo masih saja terdiam dan sesekali memasang senyum. Senyum palsu.

***

"Selamat datang Bu Nina, Pak Redo.Kami sudah menunggu dari tadi. Silakan masuk."
Terlihat pemandangan sepasang suami istri menyambut kedatangan keluarga Aldo dengan ramah. Pantaslah karena kedua keluarga ini sudah tidak pernah bertemu hampir 1 tahun lamanya karena kesenjangan kesibukan masing-masing. Aldo menyalami teman lama orang tuanya itu dengan ramah.
"Halo Tante Lena, Om Adri. Terima kasih atas penyambutannya yang meriah." Aldo berusaha mengihibur diri sendiri dengan sedikit melempar candaan.
"Ah Aldo bisa aja. Kamu sekarang udah gede ya? Pangling sekali. Eh di dalam banyak makanan, Aldo gak usah sungkan-sungkan ya. Di tempat buah-buahan ada anak tante, lagi nata meja, tolong dibantu boleh? Sekalian kalian bisa kenalan, kali aja berjodoh. Hahahaaa..."

Aldo sangat mengerti apa yang dimaksudkan Tante Lena tanpa harus dikenalkan terlebih dulu anak perempuan yang akan dijodohkan itu padanya. Dengan enggan Aldo beranjak kedalam meraih segelas lemon squash dan berjalan perlahan menuju mejayang memajang buah-buahan segar.
Dari tempatnya, Aldo sejenak memperhatikan perempuan yang sedang berdiri memunggunginya di sebrang sana. Gaun putih yang dikenakannya plus wedges yang dipakai disepasang kaki jenjangnya cukup membuat lelaki manapun tertarik untuk melihatnya. Namun saat itu Aldo masih saja bermalas-malasan. Didekatinya meja buah-buahan itu tanpa melirik sedikitpun pada perempuan yang kini berada tepat disisinya. Dengan cuek Aldo mulai membuka percakapan.
"Gue baru tau ada pelayan makanan yang bajunya semewah lo."
Perempuan yang Aldo ajak bicarapun tak sedikitpun menolehkan pandangannya pada siapa yang mengajaknya bicara. Dengan nada dingin dia menjawab,
"Maaf saya bukan pelayan makanan."

Mendengar jawaban dan suara yang sepertinya tak asing di telinganya, Aldo segera menoleh kesisi kanannya dan matanya mulai meraba-raba sosok yang sepertinya familiar.
"Tomboy!"
Mendengar panggilan itu, perempuan itupun balik menoleh.
"Aldo!"
Tanpa banyak basa-basi Aldo segera mencurahkan perasaannya selama ini yang sempat tertahan oleh rasa kehilangan yang amat mengganggu.
"Tomboy lo kemana aja? Gue nyari-nyari lo beberapa hari ini. Jujur gue mulai merasa kehilangan, boy..." ucap Aldo sambil mengacak-ngacak rambut Andrea saking senangnya.
Sayangnya,Andrea tidak seekspresif Aldo yang bisa dengan gamblang mengucapkan kata hatinya begitu saja. Andrea hanya bisa membalas dengan senyuman dan satu kalimat,
"Gue seneng ngeliat lo disini."
"Tomboy,gue juga seneng ngeliat lo disini. Gue harus jujur sama lo, gue kangen lo, boy!
Lagi-lagi Andrea hanya tersenyum menangkap sinyal tersirat diantara mereka.
"Tomboy,gue mohon jangan menghilang tiba-tiba lagi ya..."
Andrea masih tersenyum.
"Tomboy,gue sayang sama lo."
Senyum yang terbingkai di wajah Andrea makin merekah.
",dan satu hal lagi yang mau gue tanya, nama lo..."
Andrea menarik nafas panjang. Sepertinya pertanyaan inilah yang ia tunggu sejak dulu.Pertanyaan dari lelaki yang berhasil merebut rasanya sebulan terakhir ini.Senyum yang terukir itu terlihat sangat manis ketika dia bilang,
"Gue Andrea Gibrani Azalea. Dan gue anak Tante Lena."

Minggu terakhir di bulan Juni. Semua ketakutan, kekhawatiran, kemarahan mencair menjadi satu rasa. Minggu terakhahir di bulan Juni, awal kisah yang mengantar kesakitan menjadi kebahagiaan yang teriring dengan ketulusan yang sepenuhnya,yang mengantarkan penderitaan yang terjal menjadi amat menyenangkan, dan merubah kemarahan menjadi perasaan yang begitu nyaman.

"Andrea,Aldo sayang kamu..."
"Aldo,Andrea sayang kamu..."

***

01 Agustus 2010

stupid essay - lebih senang sendiri bukan berarti gue egois

Oke.. gue tau gue ini pengkhayal yang bego, pemimpi yang gak tau diri tentang mimpiin siapa dan waktunya kapan, gue juga pengimajiner yang sangat abstrak tapi sensitif. beberapa hari ini gue memikirkan sesuatu yang baru gue sadarin serasa pelan-pelan ilang di hidup gue. jam 8 lewat di suatu malam gue meretas lampu-lampu tol, melewati kilometer-kilometer jalan sampe akhirnya gue tau pintu tol mana yang gue tuju.

Jalan sendirian di tengah sorotan mobil lain dan dinginnya hawa malam buat gue selalu berpikir ternyata ada bagian yang kosong dari hidup gue sekarang.sekitar km 50 ada pemandangan bagus disekitar gue melaju diantara kecepatan 80km/jam - 100km/jam. serasa ada bintang-bintang yang tiba-tiba Tuhan taburkan disekeliling kota dan itu terlihat indah dimata gue (lebai deh bahasanya padahal itu cuma lampu-lampu kota. hahahaa..) momment yang bagus nih buat introspeksi diri gue. (momment yang bagus? kebiasaan aneh!)

"gue pengen banget balik lagi ke hidup gue yang dulu.
adem.
nyaman.
gak banyak pikiran.
gue selalu punya waktu banyak untuk menyendiri karena itulah gue, yang gak bisa akrab dengan keributan, gak bisa tenang dengan kegaduhan, gak bisa diem di tengah keramaian.
emang pada dasarnya seperti itu!
gue selalu memilih menyendiri untuk mencari hal yang bisa menenangkan gue dari hal-hal yang mengganggu gue daripada harus mendekat dengan banyak orang dan kebisingan.
gue lebih memilih sendiri untuk mencari senyum gue yang hilang.
gue lebih memilih sendiri untuk nentuin apa yang gue mau untuk gue sendiri.
gue lebih memilih sendiri untuk bisa bermimpi lebih banyak tentang kehidupan. apapun itu kontennya.
gue lebih memilih sendiri untuk meminum secangkir susu hangat di satu ruang minim cahaya sambil curhat di depan laptop gue.
gue lebih memilih sendiri untuk mencurahkan apa yang gue rasa karena yaaa... jujur gue gak bisa terlalu percaya sama orang lain.
gue lebih memilih sendiri untuk bisa mengevaluasi udah jadi apa diri gue sekarang.
gue lebih memilih sendiri untuk bisa berpikir jernih bahwa 4x4 =16 ( sempat tidak sempat harus dibalas) atau 4+4 tidak selalu harus 8. (ngerti kan maksud gue?)
gue lebih memilih sendiri untuk bisa memilih rencana-rencana yang bisa gue rangkai selama jalan hidup gue.
yaaaa.. gue memang senang menyendiri.
lantas lo mau bilang gue egois?
jangan dulu bilang.
yang harus lo ngerti satu dari kebiasaan orang menyendiri adalah bisa jadi karena mereka sedang berusaha mengikis sifat egoisnya dengan caranya sendiri,
dan itu terjadi sama gue.
hhmm...rasanya gue rindu masa-masa itu yang tanpa sadar menghilang perlahan-lahan."


km. 155....
60km/jam

hampir sampai....

bu, maafkan aku berdosa bu..

bu.
maaf aku masih angkuh.
dewasa sepertinya jauh dariku.
belum bisa sabar menghadapimu.
padahal aku begitu sayang padamu.
bu.
maaf aku melawan.
tak seharusnya aku menyombongkan diri dengan ego ku.
padahal aku tau kau lakukan semua yang terbaik untukku.
bu.
maaf aku membangkang.
sulit menahan persepsi ku yang terkadang berbeda denganmu.
padahal kau tau baik buruknya kehidupan.
masih saja aku meremehkan.
bu.
maaf telah menyusahkanmu.
sejak kecil menyusahkanmu.
sampai sekarang selalu menyusahkanmu.
bu.
maaf sempat berfikir kau tidak lebih menyayangiku dari yang lain.
padahal kau sangat mempedulikanku.
sebenarnya akulah yang sangat kau cintai.
bu.
maaf aku mengecewakanmu.
padahal kau selalu bilang akulah yang kau banggakan.
akulah yang kau andalkan.
tapi aku sama sekali merasa belum berbuat sesuatu yang berarti.
bu.
maaf sering meresahkanmu.
aku kesal.
tapi kau tak pernah kesal padaku.
kau tetap berdoa dengan ikhlas untukku,
"semoga kamu selalu dilindungi Alloh."
bu.
maaf telah membuatmu meneteskan airmata.
sikapku begitu bodoh.
tapi aku terlampau sombong untuk mengakuinya.
bahkan sekedar bilang,"iya aku salah.maafkan aku, bu."
bu.
maaf membuatmu sakit.
tak pernah berniat aku, bu.
padahal kau sakit karena memikiraku, mengkhawatirkanku.
tapi aku lagi lagi tak bisa berkata apa-apa.
bu.
maaf aku pernah marah karena kita bertengkar.
aku tak bisa menahan emosi.
aku membantah.
lagi lagi karena keegoisanku.
dan kau diam.
dan kau menundukan kepala.
mengusap wajah, menghela nafas, berbisik istigfar.
dan kita berdua bicara.
dan suaramu bergetar "ibu minta maaf.."
bu, kenapa harus minta maaf!
bu.
maaf mengacuhkanmu.
sibuknya aku dengan urusanku sendiri.
dengan duniaku.
padahal kaulah salah satu penyelamat duniaku dengan doa doa yang kau panjatkan siang malam.
bu.
maaf tidak menjagamu selalu.
kau lanjut usia aku tau.
tapi aku sebatas tau tanpa sering menyadari bahwa kaulah malaikatku bu.
bu.
maaf.
maaf bu aku merasa berdosa bu.
aku berdosa.
melukaimu,menyakiti hatimu,membuatmu bersedih hingga terkadang menangis tak tertahan lalu solat meminta ampun padahal itu dosaku bu.
bu.
maaf aku terkadang lupa mendoakanmu satu atau dua hari.
padahal tak hentinya kau baca ayat ayat suci itu untuk ku dan juga keluargamu.
bu.
maaf.
aku berdosa bu.
maaf aku menyesal bu.
bu maaf aku berdosa.
maafkan aku bu.
maafkan tingkah mengesalkanku.
maafkan ego ku.
maaf bu.
maaf........

Stupid essay - tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, karena kehidupan adalah alat yang menyenangkan untuk belajar banyak hal.

jam 00.23
hari ini, dini hari.

kacamata gue uda gak tau gue simpen dimana, hasilnya mata gue jadi bersipit sipit ria nongkrongin layar laptop gue.
sekedar ngingetin,
note ini sama sekali gak beraturan kayak otak gue sekarang gak beraturan mikir kesana kemari.

nice day!

hari ini gue belajar kalo gue harus bener-bener dituntut jadi cewek yang lebih kuat, dan ini bukan konotasi.
kuat fisik!
tahan banting!

hari ini gue belajar menerima keterbukaan lingkungan dan menyesuaikan dengan ketertutupan sifat gue yang gak pernah disadarin sama siapapun (mungkin).
fleksibilitas!

hari ini gue belajar sabar ngadepin orang yang kelakuannya rada bikin senyum gue miring pait hahaha
sabar!

hari ini gue belajar bertahan dari semua yang bisa ngelumpuhin diri gue.
bertahan!

hari ini gue belajar melakukan segalanya bersama.
kerjasama!

hari ini gue belajar kuat dari angin malam yang dingin, dari rintik hujan yang baru dibilang gerimis, bertahan dari kelaparan yang baru beberapa jam, bertahan dari rasa kantuk sebelum waktunya.
kuat!

hari ini gue belajar tanggung jawab dari apa yang udah gue tekadkan. gue tau gue manusia yang gak selamanya konstan kayak itungan matematik yang hasilnya mutlak. gue juga bisa jenuh ternyata, dan gue belajar melawan ego sendiri.
konsisten!

hari ini gue belajar hidup orang lain. berkaca dari cerita mereka yang bermalas-malasan, yang hidupnya selalu santai, yang orangnya terlihat tak pernah lelah, perempuan soleh, sampai orang yang mabok-mabokan.
"orang mabok itu omongannya jujur loh!"celetuk gue.
"berarti buat tau dia ngomong jujur kita harus liat dia mabok dulu dong?"
hahaa.. begitu susahnya ya nemu orang yang selalu berkata jujur sekarang, sampai kejujuran aja harus dibayar dengan alkohol.

dan malam ini gue juga belajar menjadi manusia yang bersikap sewajarnya aja.
sikap gue, dan juga cara gue berbahasa.
"berarti bahasa itu bakat ya non?"
"gue sih gak terlalu ngerti tentang hal-hal yang bersifat teoritis. cuma kalo menurut gue meskipun orang bakat berbahasa, kalo dia gak peka sama hal lain, sama aja boong."
ngomong sekenanya.

nah kan? hari ini gue belajar banyak hal?
jadi gak ada alasan buat gue gak bersyukur.
karena kehidupan itu adalah alat yang menyenangkan untuk belajar banyak hal.

selamat malam.
semoga besok banyak pelajaran lagi.


(C)

Malam, kenapa kau bisu?

hai malam,
mengapa kau selalu bisu?
padahal dinding dinding besar itu juga bisu
mereka diam sejuta bahasa
meskipun dibaliknya tersimpan cerita

wahai malam,
berkatalah kau meski hanya mendesis
aku bosan berdiam dalam sepimu
atau sesekali melihatmu tenggelam dalam hujan yang gemerciknya terkadang berisik

malam,
bicarakan saja semua yang kau rahasiakan padaku
apa selama ini aku pernah menutupi semuanya darimu?
aku berbagi suka ku di tengah malam dan kau hanya diam
aku bermuram durja di tengah malampun kau masih saja tak kasihan

oh malam,
ceritakan tentang hidup mereka di bawah jembatan yang berselimut dingin
agar aku sadar betapa mereka tak seberuntung aku
ceritakan tentang mereka yang mengais rezeki di bawah bias lampu kota
agar aku tau betapa sebenarnya mereka enggan bernasib kekurangan
ceritakan aku mereka yang masih berjalan tanpa arah dan alas kaki
agar aku tau betapa berharganya arti keluarga
ceritakan aku jalan mereka yang tak selalu mulus dan sangat penuh derita
agar aku tau betapa aku harus bersyukur

duhai malam,
andai kau dapat bercerita
dongengkan aku kisah nirmala dahulu kala
karena sejak malam malam kau hadirkan
banyak kisah beterbangan
tapi masih saja buatmu diam
malam...


(C)

mengapa tak kau padamkan saja terang bulan itu sekalian?

maaf,kali ini aku tidak pintar bermain kata
aku hanya merasa bodoh memperhitungkan perasaan
meskipun aku tahu perasaan tidak bisa bermatematika

hei!bukankah aku sudah bilang,
terlalu banyak rasa yang tak tentu itu bisa buat aku mati rasa.
masih saja aku tak mengerti!

yang benar saja harus tetap kau biarkan aku berdiri di simpang putih atau hitam,kiri atau kanan,panas atau dingin,siang atau malam,maju atau mundur,bahkan madu atau racun?!

mengapa tak kau padamkan saja terang bulan itu sekalian?

biarkan saja semua indah di masa nya masing-masing

kamu tau rasi bintang itu sudah tak penting lagi sekarang
kecuali kamu mau meromantiskan keadaan

kamu tau bola ramalan juga rasanya sudah tak penting
kecuali kamu mau sedikit bermain dengan takdir

jadi tak usah memaksakan kehendak
aku juga sadar dunia bukan dongeng anak balita yang selalu dikata indah meski tak nyata

sudahlah!

kembali pada realita
biarkan saja semua indah di masa nya masing-masing
biar menunggu sedikit lama
daripada kehilangan semua seketika
(C)

sana! aku ikhlas!

satu satu kecewa menipis
mungkin sebentar lagi terkikis gerimis
aku seperti belajar menerima rasa yang terkadang naik turun
membakar bahkan mendamaikan
emosi hingga buatku diam
tapi tak pernah hilang sedikitpun
aku sembari meraba raba mengatur rasa
mencari alasan yang bisa menjauhkanku darimu meskipun nantinya kita akan menjauh dengan sendirinya
karena terikatpun kita tidak
aku memang takut kehilangan
tapi memang sebentar lagi
lambat laun kamu akan membingkai langkah semakin jauh
sana!
aku ikhlas!


(C)

dongeng sebelum tidur..

aku suka matahari sehabis hujan
sinarnya mendamaikan
tak harus menyengat dan menyilaukan
aku rindu ekor pelangi
mengepak meretas kuat membelah langit
spektrum cahayanya bersinergi
membayangi bumi
menghidupkan sisi sisi yang sepi
aku ingin berdiri diujung senja
menguning mengusir lelah
mengantar burung berkelana
menyambut malam
kapan aku melihat ribuan bintang lagi?
disana aku titipkan doa pada satu satu cahaya yang mengedip
menunggu lelap dan mengantar mimpi indah menjadi nyata
perlahan lahan..



(C)

kita seringkali salah tapi bukan berarti selalu salah..

ketika kita merasa di dunia ini kita sendirian,kita salah
ketika kita merasa menjadi orang yang sangat menyedihkan,tahukah itu juga salah
ketika kita merasa paling terpojok,sayangnya itu salah
ketika kita merasa tak ada gunanya lagi hidup kita,demi apapun itu salah
ketika kita merasa tak punya jalan lagi,itu salah
ketika kita merasa harus menyesal seumur hidup,sebenarnya kita itu salah
ketika kita merasa menjadi orang yang selalu berbuat bodoh,itu juga salah
jadi,apa benar kita selalu salah?
salah!


(C)

ini,agar kamu mengerti bahwa..

ini
agar kamu mengerti,kamu masih ada disetiap niatku melupakanmu
kamu tau,mungkin Tuhan belum mengijinkan itu
ini
agar kamu mengerti bahwa sebenarnya ada kata yang sulit kurangkai untuk menepiskan rindu
ini
agar kamu mengerti
bahwa kamu terkadang mengusik lamunku dengan menyenangkan

agar kamu mengerti bahwa aku tak mengharap kamu merasa,
sekali lagi hanya agar kamu mengerti bahwa ternyata
masih ada kamu di setiap ucap doaku
mengertilah
ini aku,
takkan mau membebanimu dengan rasaku
sungguh..



(C)

padahal hanya langkah pelan-pelan..

pelan pelan kita bertemu
lalu dipersatukan
pelan pelan kita mencari arah
lalu berjalan bersama
pelan pelan kita merangkai mimpi
dan meraihnya bersama
pelan pelan kita mengecap bahagia
dan tertawa bersama
pelan pelan ada duka cita
dan kita pun bersedih
pelan pelan saling tersakiti
lalu apa perlu kita hancur bersama?
(c)

...Mereka adalah sahabat. sahabat adalah mereka...

Mereka bilang tanah ini tempat bermimpi. Bau nya khas. Ini masih gerimis, gerimis mengundang. tapi disini tempat tenang. mereka selalu senang sekalipun yang mereka bawa adalah kesedihan.

Ini hampir larut malam, teman. dan kita baru tiba di bukit ini. bukit batu bisu yang menyimpan harapan-harapan kita, keluhan dan curahan hati kita, ingatkah itu? kita saling melempar batu kekesalan ataupun sekedar bercengkrama dengan dinginnya hawa malam. kita saling berdekatan dan bertukar kehangatan. kita saling melempar canda atau sekedar menikmati secangkir kopi hangat. kita saling membuyarkan lamunan selama perjalanan. satu - satu lampu jalanan ibukota terlewati. satu - satu angan terbagi. satu - satu harapan terbang. satu - satu kesedihan mencair. satu - satu kepedihan terobati.

Mereka bilang logika adalah kunci dari segala masalah. Dimalam itu mereka berlogika dicampur sedikit galau dan air mata, kekesalan tapi masih campur aduk dengan perasaan sayang untuk meninggalkan akhirnya terpaksa juga harus menerima kenyataan. lagi lagi logika terlihat begitu "galak dan tegas".

Selalu ini yang kita bicarakan teman. tentang perasaan, mimpi, harapan, doa, angan, cita-cita, cinta, maksud hati, susah, senang, kesombongan, kebanggaan, dan pastinya tentang persahabatan kita yang selalu kita bilang telah selama 15 tahun berlalu. padahal mungkin belum genap setahunpun. haha.

Mereka bilang santai mati sampai mati. Hidup selalu berkutat dengan masalah, dengan hal - hal yang membimbing hidup menjadi lebih baik (harusnya). Tapi mereka bilang sekali lagi, hidup santai mati sampai mati.

Kita sedang tertatih - tatih sebenarnya. menyusun bagian - bagian hidup dan sedang kita rangkai dengan serasi. membenahi yang cacat. membenarkan yang belum benar. memperbaiki yang masih terlihat buruk atau sekedar kurang baik. tapi mereka tetap santai mati sampai mati....

Mereka adalah sahabat. sahabat adalah mereka

Persahabatan adalah punya kita.

Mereka yang tetap merasa satu meski terkadang hilang satu - persatu. entah sampai kapan mereka berbakti. berbakti untuk persahabatan dan mimpi - mimpi yang mereka bingkai bersama.

Entah sampai kapan. kita tak pernah tau. dan akupun tak mau tau.