29 Desember 2010

Hei kamu, petikan gitarnya dan mainkan hentakan drumnya.Aku selalu perhatikan itu.

Hei kamu,

Mainkan petikan gitarnya. Aku ingin mendengar kau bersenandung lagi. Separah apapun suara yang nantinya kau nyanyikan, aku akan berusaha menikmatinya seperti menikmati kekuranganmu dengan ikhlas.

Mainkan hentakan drumnya. Aku ingin mendengar kau menabuhnya lagi. Memutar stick dan mengibaskan lagi rambutmu yang berkeringan memukul bagian-bagian nya. Emosinya terbawa sampai ke otakku. Nikmati ketukannya, seperti menikmati kelebihanmu dengan ikhlas.

Mainkan kata-katanya. Aku ingin mendengar kamu berkata apapun yang kamu rasa. Dari kesedihan sampai kebahagiaan. Bingkai senyumnya di mukamu. Setidaknya akan membuat aku lebih tenang memilikimu. Kamu, melihatku, menyentuhku dengan rasamu, biarkan aku menikmati segala rasanya seperti aku menikmati kamu layaknya kamu, baik buruknya, suka dukanya, apa adanya…

27 Desember 2010

Kamu adalah kamu, yang namanya ada di setiap sudut besar dan kecil hidupku.

Jika kamu ada dipagiku, kamu adalah embun yang menetes sangat pagi, bening dan menyejukan

Jika kamu ada disiangku, kamu adalah sinar yang menghilangkan sisi gelapku bagaimanapun itu wujudnya

Jika kamu ada di soreku, kamu adalah senja yang menyorotkan sinar jingga hingga terasa hangat menyambut petang

Jika kamu ada di malamku, kamu adalah bintang satu-satunya yang selalu ingin kutunjuk

Jika kamu ada dalam alunan musik, kamu adalah melodi menyenangkan dicampur sedikit distorsi yang tidak membosankan

Jika kamu ada dalam lirik lagu, kamu adalah bait-bait yang membangkitkan rasa

Jika kamu ada dalam sebuah drama, kamu adalah bagian adegan paling menarik yang ingin selalu aku putar ulang

Jika kamu ada dalam sajak, kamu adalah kalimat-kalimat indah yang dirangkai di akhir lariknya

Jika kamu ada dalam catatanku, kamu adalah bagian tersirat dari cerita-cerita yang aku tuliskan yang mengilhami daya pikirku

Jika kamu ada dalam mimpiku, kamu adalah orang yang aku harapkan menyentuh pikiran bawah sadarku

Jika kamu ada dalam harapanku, kamu adalah orang yang akan selalu menyertaiku berjalan, berlari, dan berdampingan satu sama lain

Jika kamu ada dalam hidupku, kamu adalah orang penting yang membuatku belajar banyak hal yang sebelumnya aku tak pernah tahu, aku tak pernah rasa, aku tak pernah kira, aku tak pernah hadapi, dan aku tak pernah percayai.

Jika kamu dalam sadarmu sekarang, kamu adalah kamu, yang namanya ada di setiap sudut besar dan kecil hidupku.

Jadi, perlukah meresahkan hal yang lain?

Ya, aku percaya keajaiban itu ada...

Ini mungkin terlihat berhasil. kita sudah mampu melewati waktu-waktu dimana keadaan pernah memaksa kita untuk banyak bermimpi bahwa kita nantinya akan bersama lagi. Kesakitan sendiri, perih sendiri, bahagia sendiri, rindu sendiri, semuanya hanya bisa dipendam sendiri. Keinginan untuk melupakan, untuk melepas, untuk menyadari kenyataan kita tidak didalam jarak yang dekat seperti dulu. Ketakutannya akan hal yang sebenarnya belum dijalani sama sekali setelah semuanya berubah. Aku dan kamu. Kita.

Ya, keadaan memang telah benar-benar berubah sekarang. Aku dan kamu. Kita. Sebagian memang bukan kita yang dulu dan kita bawa ke masa sekarang. Masa yang sudah jauh berbeda dari dulu. Yang jiwanya lebih lapang menerima perbedaan, lebih sabar menerima permasalahan, lebih mengerti menerima keburukan, lebih bersyukur menerima kebaikan. Semuanya akan terasa membahagiakan jika terus seperti itu. Dan hati dari aku dan kamu lah yang seperti nya susah untuk dirubah. Mau dirubah seperti apa lagi? Kita masing-masing sudah melewati jalan nya sendiri-sendiri dan berusaha saling menjauhkan dari perasaan yang sama. Kamu dengan wanita itu, itu dan itu. Aku dengan lelaki ini, ini dan ini. Semua telah diusahakan untuk belajar mencintai pihak lain yang lebih dekat di mata dengan cara yang mudah. Dan semua berhasil berakhir dalam waktu yang singkat, tidak seperti kita dulu. Sangat lama untuk mengenal satu sama lain dan menjalin hubungan kemudian.

Mata kita telah terbuka, sayang. Aku dan kamu. Ya, kita. Lihatlah sekarang, kenyataan bahwa kita bisa bersama lagi. Menggenggam tangan dan menjaga satu sama lain. Memeluk raga dan menenangkan jiwa satu sama lain. Menatap mata dan meyakinkan perasaan satu sama lain. Berbicara dan saling menguatkan satu sama lain. Bukankah membahagiakan jika mempunyai seseorang yang mampu berjalan beriringan dengan langkah kita, mendorong dari belakang, menuntun dari samping dan menjaga dari depan? Itulah kita sekarang. Keinginan untuk selalu “saling” satu sama lain.

Aku hanya ingin menatap ke depan sekarang, menatap bersamamu, memandang bahwa dulu adalah pelajaran yang berharga yang akan dijadikan hal yang lebih baik untuk sekarang. Sekarang adalah kamu yang aku cinta dulu dan belum berubah sepetik pun dari ingatanku. Meskipun pada kenyataannya aku sempat memikirkan orang lain, tapi kenapa selalu kembali padamu? Kenapa selalu ada kamu diujung sadarku? Mungkin memang harusnya aku denganmu. Atau Tuhan yang beri kita kesempatan lagi untuk memperbaiki yang pernah rusak? Biarkanlah itu menjadi rahasiaNya.

Jadi, suatu saat ketika ada yang bertanya lagi apakah aku percaya dengan keajaiban?

Ya, aku percaya.

Karena kamu membuktikan itu.

23 Desember 2010

Malam, jawab aku !

Hai malam.

Lihatlah aku, hampir mengeluh dengan segala kekosongan dalam pikiranku. Aku terjebak dalam kebuasan angin malam yang mendiamkan. Hanya membuatku mematung dan tetap terjaga. Jika semua udaranya buat kalimat-kalimat bias itu mematung juga, buat mereka mematung di depan mataku. Tapi itu tak bisa! Dan akhirnya selalu membuatku buntu lagi buntu lagi tak bisa melarikan angan ini keluar jeruji mimpi.


Heemm, malam.

Entah kau bisa membenarkan emosiku malam ini atau hanya mendengarkannya, atau bahkan tidak menghiraukannya sama sekali. Aku hanya ingin berbicara padamu. Tapi sesekali muncul tanya dalam benakku, kemana inspirasi yang selalu kau beri padaku dulu? Yang selalu kau undang masuk ke otakku dengan serentak dan mudah dulu? Yang tak perlu dengan cara menangis jika kata-kata bias itu hilang, yang tak perlu terjebak dalam kemarahan sesaat jika satu ilham datang dan pergi begitu saja, yang tak perlu menundukan kepala menyesali diri sendiri ketika tak berhasil menangkap rangkaian makna yang tersirat. Kemana semua inspirasi itu pergi?


Oh malam.

Sungguh ini akan menyiksaku terlalu dalam. Menyiksa malamku yang biasanya kutunggu-tunggu mulai petang menjelang hingga fajar menerbit. Menyiksa dengan berbagai kekosongan yang ada. Hanya lamunan yang ada. Hanya lamunan. Hidup menyampah dengan kekosongan. Kekosongan akal dan ilham.


Ah, malam.

Entah aku ingin menulis apa. Rasanya sulit sekali mendefinisikan yang terjadi. Mengimpretasikan rangakaian huruf tak terlihat yang melayang di depan sadarku namun masih saja tak dapat ku sentuh dan kurangkai dalam tulisan. Masih saja sulit. Padahal dulu tak begitu. Dulu begitu terasa sangat mudah meluncur di pikiranku. Begitu mudah kumuntahkan kedalam tulisan. Dulu, ya begitu mudah sebelum suatu hal membunuh hampir semuanya. Membunuh bakatku. Membunuh kekuatanku. Memati surikan nyawa yang dulu dapat dengan mudah kutuangkan nafas-nafasnya kedalam benak cerita singkat, atau sekedar sajak yang padat namun rasanya mudah kudapat. Itu dulu malam! Dulu. Kenapa tak kau tahan sampai sekarang???!!


Malam.

Apa kamu merasa aku salahi? Atau kau berpikir akulah yang membodohi diri sendiri? Aku memang tak kuat menggenggam kesejukan ilham-iham yang sebenarnya mash selalu ada di pagiku, siangku, bahkan malamku. Yang sebenarnya masih selalu tersirat di setiap tetes embun, rintik hujan, garis pelangi, terik mentari, semilir angin, dan sinar rembulan di gelapnya hari. Yang sebenarnya masih mengalun dalam ketukan-ketukan halus, irama yang cepat, hingga nada yang mendayu. Aku sudah berusaha ikuti ritme nya, tapi aku merasa masih saja merasa kehilangan.


Ya, malam.

Bukannya aku bersedih dengan keberadaan aku yang kini mengikuti waktu yang sedang berpacu. Aku hanya merasa sepertinya harus menyalahkan diriku sendiri yang melewatkan hal-hal yang harusnya kuterjemahkan kedalam tulisan. Agar itu dapat terbaca begitu indah sekalipun kepedihan yang terasa. Tapi mana kepekaanku yang dulu senang menyentuh batinku? Apa dia terbuang bersama arus ego ku? Mohon jangan biarkan aku terus memarahi diriku sendiri. Katakan sesuatu, malam.


Baiklah, malam.

Ya mungkin aku memang membodohi diri sendiri. Sedang apa aku ini, berbicara dengan objek yang tak akan pernah bisa menjawab curahan emosiku. Bahkan tembok-tembok kokoh yang mereka bilang menyimpan banyak rahasia dari apa yang selalu mereka dengar dari percakapan manusia sekitarnya pun tak bisa berteriak padaku untuk sekedar berkata, “Jangan menyerah. Teruslah mencari.” Teruslah mencari, sampai kapan? Aku tahu aku harus bertahan, sampai kapan? Aku tahu aku harus tetap berjalan sampai titik yang bisa membawaku kepada cahaya ilham disimpang jalan yang menemukanku kepada arah yang akan membenarkan perasaanku, tapi sampai dimana? Sampai kilometer berapa? Sampai persimpangan yang ke berapa? Sampai sejauh apa aku harus berjalan, pelan-pelan makin cepat, dan akhirnya berlari saking takutnya aku akan tertinggal oleh hal yang harusnya aku dapatkan?


Malam.

Oh inspirasi, kemana perginya rangkaian cerita itu? Jalanan sajak yang mengalir kuat itu? Atau sekedar penguat hati untuk seorang aku? Lagi-lagi aku bertanya kemana? Sampai nanti lama-kelamaan aku bertanya kenapa, dan kau masih saja berdiam dalam sunyimu, jangan paksa aku untuk merasa nyaman melewati malam-malamku bersama dinginnya kekosongan yang mulai senang mengusik ku. Jangan paksa aku memuntahkan kalimat demi kalimat disaat segala hal masih saja tak dapat kutangkap.


Malam.

Kau tau apa rasanya ini? Seperti ingin kesal tapi….aaaah! seperti ingin marah tapi aku tak berhak! Seperti ingin banyak bertanya tapi tak ada yang mau menjawabku! Seperti berputus asa tapi aku masih ingin maju! Seperti ingin berhenti tapi selalu ingin lebih jauh berlari! Seperti ingin membunuh otak sendiri dan menggantinya dengan yang lebih wangi biar mengundang sesuatu yang dapat mengilhami (meski aku tahu ini hanya mimpi)! Lihat, semakin parah aku berobsesi semakin jauh aku dari inspirasi! Apa tega kau biarkan aku terus begini!!??!


Oh malam.

Apa begitu menyiksa rasanya merasa kehilangan begitu banyak inspirasi? Apa begitu menyedihkannya tak dapat memunculkan karya rasa yang saling bersinergi? Apa begitu menyesaknya ketika aku tak tahu lagi apa yang harus ku ceritakan pada lembar-lembar bisu di sekelilingku? Apa begitu merasa bersalahnya jika tak mampu lagi mengungkapkan apa yang harusnya bisa aku ungkapkan?


Malam.

Jawab aku? Adakah jalan lain untuk menemukan semuanya kembali?

Malam.

Jawab aku!


15 Desember 2010

Cepatlah tunjukan dirimu membaik...

Diam kamu dalam resahku
Panas dingin
ada dalam rasamu
Aku masih diam
juga dalam resahku
Lemah air mata
itu kau muntahkan

Dikau, bertahanlah dalam malam
Andaipun yang datang ancaman
Atau apapun yang suram
Tetaplah diam
Geraklah hanya jika kau geram
Tuhan, ini doaku tolong kau rekam
Jangan sampai kau masukan ini kedalam sekam
Karena ku hanya ingin esok dia tentram
Cepatlah tunjukan dirimu membaik, Idham..

Si Penyanyi Malam

Bernyanyilah dalam kelam
Mengukir kenangan yang telah susah payah terpendam di dasar hati
Resapilah angin malam
Setiap sendu belaian membeku didalam rasa
Jalanan, langit dan bias-bias cahaya yang meredup menyaksikanmu saat ini
Melepas masa lalu yang terbuang dalam perhatian
Lentikan jarinya memetik senar itu
Lenturkan mulutnya mengucap nada itu
Di ketidaktahuanmu itu,
ada yang selalu akan mendengar sendu itu
dan berusaha mengartikannya
ya, dia hanya mengartikannya....