Semua berawal dari sini...
Hai malam,
Mengapa kau selalu bisu?
Padahal dinding dinding besar itu juga bisu
Mereka diam sejuta bahasa
Meskipun dibaliknya tersimpan cerita
Wahai malam,
Berkatalah kau meski hanya mendesis
Aku bosan berdiam dalam sepimu
atau sesekali melihatmu tenggelam dalam hujan yang gemerciknya terkadang berisik
Malam,
Bicarakan saja semua yang kau rahasiakan padaku
Apa selama ini aku pernah menutupi semuanya darimu?
Aku berbagi suka ku di tengah malam dan kau hanya diam
Aku bermuram durja di tengah malampun kau masih saja tak kasihan
Oh malam,
Ceritakan tentang hidup mereka di bawah jembatan yang berselimut dingin
Agar aku sadar betapa mereka tak seberuntung aku
Ceritakan tentang mereka yang mengais rezeki di bawah bias lampu kota
Agar aku tau betapa sebenarnya mereka enggan bernasib kekurangan
Ceritakan aku mereka yang masih berjalan tanpa arah dan alas kaki
Agar aku tau betapa berharganya arti keluarga
Ceritakan aku jalan mereka yang tak selalu mulus dan sangat penuh derita
Agar aku tau betapa aku harus bersyukur
Duhai malam,
Andai kau dapat bercerita
Dongengkan aku kisah nirmala dahulu kala
Karena sejak malam malam kau hadirkan
Banyak kisah beterbangan
Tapi masih saja buatmu diam
Malam...
Jari-jari lentik Andrea menari diatas keyboard laptop dengan terarah. Pikirannya melesat jauh keluar ruang dan mencari apa saja yang bisa dia tulis malam ini. Andrea memang gadis yang dingin. Dia akan bicara seperlunya pada orang lain dan jika tidak ada yang dibutuhkan maka dia akan diam seribu satu bahasa. Maka dari itu,Andrea lebih senang menuliskan apa saja yang ada dibenaknya daripada membicarakannya pada seseorang karena meskipun orangnya cenderung pendiam,diaseringkali mengaku bahwa dirinya adalah pengkhayal bodoh, pemimpi yang tak tahudiri tentang memimpikan siapa dan waktunya kapan, juga pengimajiner yang sangat abstrak tapi sensitif.
Selain senang menulis, Andrea adalah orang yang senang menyendiri setelah melakukan aktifitas diluar kandang kebesarannya, kamar tidurnya. Dia akan mencerna apa yang dia pelajari setiap harinya dengan duduk di pinggir jendela kamarnya sambil meminum segelas susu dan lantunan musik menenangkan seperti musiknya Saosin dan The Used (menenangkan?are you sure?).
Apa hari ini aku menjadi manusia yang baik?
Selalu itu yang Dre, panggilan akrabnya tanyakan pada cermin di sisi meja belajarnya yang telah dua tahun in menjadi singgasana pertemuan antara emosi dan inspirasi, amarah dan inspirasi, kekecewaan dan inspirasi, kesenangan dengan inspirasi, angin malam dan inspirasi, kesendirian dengan inspirasi, kerinduan dengan inspirasi, cinta dengan inspirasi, lamunan dengan inspirasi, hingga kekosongan dengan inspirasi. Selalu dengan inspirasi, dan Dre mulai menulis halyang tak beraturan lagi di dalam note laptopnya.
Tuhan apa ini jalan yang baik untukku? apa aku berdosa selama ini?
Terbersitlah dari kedipan matanya, Dre sedang berusaha menguatkan sesuatu. Sesuatu yang dari dulu selalu mengusik kesendirianya, hal yang harusnya dia sesali tapi masih saja dia berusaha melawan penyesalan karena dalam benaknya tak boleh ada penyesalan sedikitpun dalam hidupnya, apapun. Sejak 2 tahun yang lalu diapergi, hal inilah yang selalu berhasil membuat gadis 22 tahun ini menitikan airmata sampai terisak-isak.
Adalah Aldo, lelaki yang banyak dikagumi perempuan berambut panjang, ber-high heels, ber-blackberry, dan anggun semampai yang selalu bernafsu mendekati pria berambut sepundak hitam ikal dengan tinggi 175 cm dan yang namanya sering tercetak di piagam penghargaan sebagai Most Valueble Player dalam banyak pertandingan basket. Aldo hanya tersenyum ramah setiap ada wanita-wanita girang yang dengan gaya centilnya menyapa,"Hai Aldo, pa kabar?", atau "Hai Do, ganteng banget kamu hari ini...".
...dan sore itu Dre sendiri di lapang basket kampus, memainkan bola basket Spalding oranye yang banyak bertuliskan curahan-curahan hati pemiliknya. Sesekali dia mendribble bola itu lebih keras dari biasanya, membantingnya dan menghempaskannya ke sisi lapangan yang lain, lalu dia kejar, lalu dia dribble lalu dia hempas lagi ke ring dan ditangkap, di dribble, di banting, di hempas,selalu begitu. Memang selalu seperti itu hampir disetiap sore yang cerah,karena baginya adalah momment yang sakral melewatkan detik-detik jingga yang mulai menurun di pelupuk awan di bagian barat dilapang basket yang sudah sangat akrab dengannya dari umur 10 tahun. Hanya mungkin perasaannya yang selalu berbeda. Dari kejauhan, dua bola mata hitam mengamati.
"Aku memang rindu alam bebas. tapi aku juga rindu...."
"Hai!"sapa seseorang dibalik tiang ringdengan riang dan berhasil membuyarkan lamunan Dre ditengah setengah lingkaran three point dihadapan tiang.
"Apa ini yang lo selalu lakuin di sore hari yang cerah? mau berbagi bola sama gue?" katanya berusaha mengakrabkan suasana tapi tidak begitu berhasil menghilangkan kerutan bingung diwajah Dre.
"Kenapa?lo gak tau gue?"
Demi dewa peyelamat wanita-wanita penuh perasaan, pede banget ni orang.
"Gue Aldo. Kayaknya kita sekampus ya, tapi gue cuma ngeliat lo di lapang basket doang akhir-akhir ini?"
Dre kesal karena waktu menyendirinya berhasil di invasi secara mendadak oleh makhluk aneh yang belum dia kenal ini. Bola basket yang ada di genggamannya seketika dia passing ke arah Aldo dan berhasil ditangkapnya dengan sempurna.
"Jadi lo berharap bakal ketemu gue lagi selain di lapang ini?"jawab Dre dingin.
"Waw,ternyata lo masih lebih PD dari gue yaaa.... hahahaaa....." Aldo perlahan-lahan memainkan bola, mendribble dan menggiringnya mendekati tubuh Dre yang jelas-jelas lebih pendek 12 cm darinya. Dre tiba-tiba tidak bisa berkutik dan mengalihkan kelemahannya dengan memasang kuda-kuda diffense.
"Lo tau, bola ini cuma bisa masuk ke ring dengan sempurna kalo lo mengendalikannya dengan hati, bukan dengan emosi." kata Aldo tenang. Dre masih tidak bisa berkata apa-apa selain mengernyitkan kembali dahinya. Menyiratkan makna perkataan,maksud lo!?
"Gue gak butuh lo ajarin tentang basket." jawab Dre datar.
"Gue gak ngajarin lo soal basket. Gue ngajarin lo soal kehidupan. Pikirin lagi." dengan gaya sok cool Aldo take offense dan berhasil melewati dinding pertahanan Dre, menggiring bola mendekati ring dan shot.... masuk dengan sempurna. Aldo pun perlahan menghilang dari lapang basket itu seiring dengan sore yang jingganya makin menghilang.
***
Lo tau, bola ini cuma bisa masuk ke ring dengan sempurna kalo lo mengendalikannyadengan hati, bukan dengan emosi.
Rasa-rasanya selama perjalanan pulang ke kamar kost-nya, hanya kalimat itu yang teringat dibenak Dre. Entah kenapa, membuat Dre terpaksa untuk berpikir keras apa maksud perkataan Aldo tadi. Sampai waktu tidurnya tiba, Dre masih duduk terpaku memikirkan pengalaman ajaibnya tadi sore.
"Maaf Tuhan, aku masih saja belum peka.." bisik Dre dalam hati.
Esoknya di kursi teras cafe dekat kampus....
Andrea sedang serius menari-narikan jemarinya diatas keyboard laptop hitam kesayangannya dibalut baju t'shirt hitam dan celana Levis favoritnya, yang tak boleh terlupakan dari penampilannya adalah kesetiaanya dengan sepatu converse all stars classic hitam putih yang selalu dia bilang sepatu terwajar sepanjang masa. Hahahahaaa...
Bukan Andrea Gibrani Azalea namanya kalo harus berpenampilan feminin untuk waktu-waktu yang tidak spesial. Dia akan selalu memilih menjadi perempuan yang anak-anak kelasnya dikampus bilang tomboy daripada dipuji anggun dan menawan. Itu bukan ciri khasnya.
Secangkir hot chocolate menjadi teman yang baik disaat segala perasaannya ingin dia tumpahkan. Kuliahnya yang datar-datar saja, perasaannya yang berantakan kesana kemari, termasuk pengalaman ajaibnya sore tempo hari. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam dia dengan tidak sengaja selalu menghapal air muka lelaki sok kenal yang menghampirinya kemarin, juga dengan kata-katanya yang buat Dre berpikir keras semalaman tapi belum juga menemukan maksud dari perkataan itu.
"Semoga kita tidak berjodoh hanya karena gue ngeliat lo disini." suara lelaki dengan nada percaya dirinya, yang sepertinya dia kenal mengusik imajinasinya yang sedang melayang-layang ke banyak sisi-sisi kehidupan yang sebenarnya jarang terjamah bahkan oleh Dre sendiri.
"Lo lagi." suara Dre menyambut datar.
"Iya gue lagi. Seneng ya lo ketemu gue?"
"You wish!"
"Jutek."
"Bodo amat."
"Miss Datar."
"Terserah gue."
"Sombong."
"Emang."
"Cantik."
"....."
seketika air muka Andrea berubah panik, tapi dia berusaha menutupinya dengan melanjutkan kembali ketikan-ketikan di laptopnya dengan asal. Konsentrasinya menghilang...
"Dasar cewek, dipuji dikit aja langsung ilang kontrol."
"Enggak berlaku sama gue." sanggah Dre mencoba menutupi.
"Whatever. Lo ikut gue sekarang.."Tanpa banyak basa-basi ba bi bu be bo Aldo menarik tangan Andrea tanpa mempersilahkan gadis di depannya untuk menolak.Dengan segera Aldo membereskan bawaan Andrea, tas ransel berisi buku-buku dan laptop kesayangannya yang lansung Dre dekap erat didadanya.
"Lo mau bawa gue kemana heh?" nada bicara Dre seketika meninggi.Aldo tetap dalam langkahnya yang tegas dan tenang dengan sadar meggenggam tangan seorang perempuan dengan beribu rahasia di dalam hatinya. Bibirnya diam-diam tersenyum tipis.
Mobil sedan hitam bernomor polisi D 888 DO melesat memasuki perbukitan yang diatasnya bertengger vila-vila mewah bergaya minimalis dengan dominasi warna abu-abu, hitam, dan putih. Disekelilingnya terhampar hijau rerumputan, dedaunan dan pohon-pohon pinus yang menjulang lebih mirip pasukan penghalau galau (gak nyambung!blaarrr**). Rasanya ingin sekali Andrea berdecak kagum diantara sejuknya hawa disana, tapi dia keburu kesal dengan tingkah laku lelaki aneh dipinggirnya yang sedang menyetir entah sampai mana. Andrea juga kehilangan inisiatif untuk mencari tahu kemana dia akan diculiknya nanti.
"Semoga saya selalu dalam keselamatanMu ya Tuhan..."bisik Andrea sambil mengantisipasi hal paling buruk yang akan terjadi.Sampailah mereka disebuah bukit yang tinggi dengan satu rumah kokoh minimalis dengan banyak jendela berkaca disetiap sisinya. Mobil Aldo diparkirkan persis di pekarangan dengan pemandangan bunga melati yang harumnya sangat khas tercium di hidung Andrea. Terlihat diantaranya, kupu-kupu bermain di putik-putik mawar putih segar dan cantik. Bunga melati, mawar putih, dan juga kupu-kupu itu mengingatkan Andrea pada sesuatu. Sesuatu yang membawa dia menerawang masa lalu.
Kupu-kupu yang lucu, kemana engkau pergi... hilir mudik mencari, bunga-bunga yang indah..Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah... tidakkah oh sayapmu, merasa lelah...
"Bunda.." lirih Dre mengingat nyanyian itu,berkata pada burung yang mengepak sayap bebas terbang kemanapun hatinya suka. Di dalam hatinya dia merasa menjadi burung yang gagal. Burung yang dengan keyakinan hatinya ingin terbang bebas namun rapuh kemudian ketika tahu bahwa kebebasan bukan jalan satu-satunya untuk menemukan kesenangan dan kemandirian yang dari dulu ia tekadkan.
"Heh. Ngapain lo diem disitu? takut gue perkosa kalo gue ajak lo masuk?" teriak Aldo dari teras rumahnya.
Masih dengan muka yang datar, Andrea menjawab,"Ngajak gue masuk aja belom."
15.40
Jam dinding yang bergaya minimalis dengan aksen hitam putih Andrea tatap tajam-tajam dan beruaha mengingat sesuatu. Biasanya di waktu yang sama dia sedang berlarian di tempat yang selalu membuat dia lupa daratan oleh beban-beban hidupnya yang seakan makin menghimpit otaknya dan tak lama lagi akan memecahkan satu-satunya alat untuk berpikir dan berinspirasi. Bola yang menjadi teman curhat kedua setelah laptop sore ini tidak dimainkannya, dengan sangat menyesal dia berucap rendah,"Harusnya gue dilapang basket sekarang.."Aldo yang mendengar perkataan wanita yang berjalan di belakangnya itu hanya tersenyum-senyum puas atas penyesalan Andrea."Lo boleh nyesel gak bisa maen sama bola basket kesayangan lo sore ini dan gak bisa lari-lari gak jelas dilapang basket kampus kesayangan lo itu, tapi sebentar lagi gue rasa penyesalan lo bakal musnah secara tiba-tiba. Dazzzz!"
Andrea tidak menggubris apa yang dikatakan oleh anak baru yang secara lancang masuk ke dalam kehidupan nya itu tanpa permisi. Andrea tetap mengamati pemandangan sekitarnya yang membuat dia sebenarnya sedikit lebih nyaman. Sebuah rumah yang rapi, bersih dan wangi tipe Andrea. Kursi dan meja yang tertata oleh pot bunga kecil bermawar di tengahnya dan lukisan-lukisan abstrak yang sebenarnya Andrea sendiri tidak tau makna nya apa. Satu yang Andrea tau tentang hal abstrak adalah kebebasan. Kebebasan memilih unsur warna dan sketsa-sketsa tanpa melupakan keindahan sebuah seni. ebebasan untuk menentukan sumber inspirasi. Kebebsan untuk memilih alur cerita dari lukisan itu sendiri. Kebebasan untuk menggoreskan kuasnya kemana hati menyuruh. Sepertinya kata 'kebebasan' itu juga yang selalu membuat aliran Andrea terasa berdesir-desir seperti seonggok batu diterjang ombak dipinggir laut yang sewaktu-waktu bisa terkikis dan didera rasa bersalah yang tak menipis semilimeterpun. Andrea membingkai dirinya sendiri.
"Oke, mungkin ini tempat ideal untuk kita sore ini."
Aldo dengan santai membukakan pintu berkaca transparan dan angin sore dengan sigap menyapu rambut panjang ikal Andrea. Pemandangan yang tidak akan pernah dibayangkan Andrea sebelumnya. Satu lapangan basket outdoor standar dikelilingi pohon pinus yang menghijau. Wangi disekitarnya sekiranya telah ia kenal sejak lama. Mawar melati yang berseri menyambut tamu baru dirumah kediaman Aldo. Disekitarnya tumbuh rumput-rumput yang mulai nakal dan terlihat belum juga dipangkas rapi oleh empunya rumah. Andrea tertegun. Diam. Menikmati apa yang ada dihadapannya sekarang.
"Lapang basket...."
"Jadi sekarang lo gak usah nyesel lagi gak nengokin si lapang basket kampus. Lo bisa main disini sampe matahari terbenam. Itu kan ritual sore lo di lapangan?"
Andrea hanya mengangguk masih setengah tak percaya lelaki yang sok tahu dan sok percaya diri ini akan mengajaknya ke tempat seindah ini. Bagi Andrea, asal ada lapang basket, semuanya bisa dibilang indah. Mungkin mawar melati adalah bonusnya. Tanpa sadar, senyum pun merekah diwajah polos Andrea.
"Nah berhubung lo udah nemuin surga dunia lo, jadi sekarang gue mau ngambilin lo minuman dulu dan lo stay aja disini. "
Tidak ada alasan untuk Andrea pergi tiba-tiba dari tempat senyaman ini. Di tengah lapangan itu, terduduklah sebuah bola basket yang dia cari dari setiap sudut tempat outdoor itu. Segera Andrea berlari ke tengah lapangan, berdiri sejenak dan merasakan betapa damainya nyanyian sore kala itu. Betapa hangatnya sinar yang memandikannya dan betapa ingin ia melukis semua dalam ingatannya. Ada secercah senyum ia simpulkan dan berpikir ternyata Aldo tidak seburuk dan sesombong yang ia kira.Diambilah bola yang masih menganggur menunggu untuk dimainkan oleh seseorang. Andrea mulai memutar-mutar bola yang terlihat masih baru itu dengan wajah yang cerah, lebih cerah dari biasanya. Dimainkanlah bola itu, di dribble ke beberapa sudut disana, melompat seiring dengan dentuman bolanya, berlari, melangkah melayang dan memasukan bola ke ring, me-rebound, berlari-lari seperti anak kecil kegirangan dan terus seperti itu hingga... Aldo memecahkan keantengan perempuan yang senang menyendiri itu.
"Emang lapang bikin lo lupa daratan yaaa..." sergap Aldo.
"Entah kenapa gue selalu lupa diri setiap dihadapkan dengan kesendirian." jawab Andrea disertai tawa ringan.
"Orang aneh. Disaat orang lain lupa diri dengan segala keramaian dunia, lo malah bisa lupa diri ditengah kesendirian."
Andrea lagi-lagi hanya tersenyum manis dan mengambil segelas orange juice ditangan Aldo dengan segera.
"Siapa suruh lo ngambil gelas itu?"
"Diem-diem gini gue adalah orang yang penuh dengan inisiatif."
"Bilang aja lo kehausan."
"Kalo lo tau gue kehausan kenapa basa-basi dari tadi?"Aldo langsung diam ditembak pernyataan yang buat otaknya stuck tak bisa terbang mencari kata-kata apa lagi untuk wanita aneh yang ada didepannya itu sekarang.
Tanpa komando mereka berdua beriringan menuju lingkaran persis di tengah lapang basket dan menyerahkan badan mereka ditempat itu. Semilir angin masih ingin mereka berdua rasakan tanpa berkata apapun. Andrea dan Aldo menerawang hal-hal dalam benaknya masing-masing dan merasakan sesuatu yang merasuki dadanya melegakan panas yang terasa menjamur didirinya masing-masing. Dengan tenang mereka terduduk dan memejamkan matanya, membiarkan rambutnya disapu gelombang kedamaian yang membungkukan kepalanya. Dalam heningnya suasana dan tenangnya mereka diantara koridor mimpi masing-masing, Aldo membuka pembicaraan,
"Damai kan?"
"Iya."
"Disini gue biasa mencari ketenangan disaat segala hal yang lain memusingkan gue."
"Rumah ini?"
"Keluarga gue sering dinas keluar negeri.Gue disini tinggal sama adik gue."
"Oooh.."
Lama mereka berbincang hingga tak sadar bahwa matahari sore akan segera urung dari tugasnya menyengat bumi. Bayang-bayang senja mulai terlukis di dataran tanah yang mulai mengering. Dan dua manusia yang baru saja saling mengenal satu sama lain masih saja nyaman dengan pembicaraannya yang ngalor ngidul.
"Gue kira lo bakalan terus jutek sama gue setelah lo kenal gue." ucap Aldo.
"Kondisional lah. Awas aja kalo lo macem-macem."
"Weeets, santai nyonya. Oiya, kenapa sih lo seneng banget keadaan kayak gini?"
"Keadaaan kayak gini?"
"Iya. Lapang basket, matahari senja,angin sore."
"Ada yang kurang sebenernya..."
"Apa lagi?"
"Wangi tanah setelah hujan."
Hening. Tak ada lagi kata-kata yang ingin Aldo ucapkan begitu mendengar betapa terlihat sangat unik selera teman barunya itu. Teman baru yang tak pernah ia perlakukan sebaik pada teman-teman baru sebelumnya.Setelah mereka berdua menyaksikan tontotan gratis lukisan jingga menurun di langit barat, angin malam mulai menusuk dan mereka memutuskan untuk masuk kedalam ruangan yang lebih hangat. Secangkir teh mereka nikmati dibawah temaram lampu meja makan dan mereka terus menebar senyum dari obrolan-obrolan apapun yang terpikir di benaknya untuk sekedar mengakrabkan satu sama lain. Dalam benak Andrea, tak pernah ia berpikir untuk berbicara banyak tentang dirinya pada orang baru dalam hidupnya, sampai pada jam 8 malam,
"Gue anter lo pulang ya..."
"Yaiyalah, lo yang udah nyulik gue kesini, berarti lo juga harus tanggung jawab nganter gue pulang!"
"Diem-diem lo nyolot juga, tomboy."
"Emang."
"Whatever.. Kemmooon.."
Mobil yang mereka tumpangi menghilang ditelan gelap, melesat ditengah hujan yang mulai mengundang. Mengundang rintik yang tiap detiknya bisa semakin menderas. Mengundang hawa yang lebih dingin dari biasanya. Mengundang mereka berdua untuk berjalan perlahan pada imajinasinya masing-masing.
Malam ini mereka membingkai kejadian apa saja yang telah mereka lewati dari tadi siang. Peristiwa-peristiwa tak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya bahwa begitu cepat chemistry terbentuk dalam diri mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang ke kostan Andrea, hujan yang turun mulai menderas dan bias lampu-lampu jalan terlihat artistik diluar jendela mobil.
"Ya ampun kenapa harus ujan sih, padahal ini kan bulan Juni."
"Gak usah protes kalo ujan turun, lo liat ujan besar bisa jadi kebahagiaan buat anak-anak kecil itu." Lalu Andrea menunjuk sekumpulan anak kecil menari-nari dengan bertelanjang dada dibawah hujan yang deras dengan tawa yang lepas, sesekali memainkan kubangan air yang berada didekat mereka atau air yang mengalir ke bagian jalan yang lebih rendah. Tidak ada beban di muka mereka, tidak ada rasa keberatan dengan hujan malam ini. Mereka lebih terlihat seperti kodok yang senang bila hujan turun.
"Liat kan, mereka yang kekurangan masih bisa dapet kebahagiaan gratis,bonusnya adalah mandi gratis gara-gara hujan turun." kata Andrea sambil menyimpulkan sebilah senyum di mulut tipisnya.
Seketika terjadi degupan jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya ketika melihat senyum yang dibingkai Andrea dimukanya. Perasaan itu dengan secepatnya Aldo lawan dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja dan antara mereka hanya perkenalan biasa yang akan berlanjut seperti keadaan yang biasa juga.
Setengah jam mereka melintasi jalan ibukota yang masih padat dengan kendaraan yang beraktivitas sampai akhirnya mobil sedan itu menepi di sebuah kostan dengan bangunan besar bergaya klasik, terdiri dari banyak kamar yang para penghuninya sendiripun jarang bergaul dengan penghuni lainnya.
"Mungkin mereka punya kesibukan masing-masing..." kata Andrea menjawab pertanyaan Aldo tentang orang-orang pengisi kamar-kamar yang berderet di koridor gedung depan.
"Lagipula, begini lebih nyaman. Hidup gue gak banyak terusik dengan kegaduhan atau suara berisik." tambahnya.
"Seanti sosialkah lo?" sergap Aldo langsung sambil mencibir.
"Kata siapa?"
"Kata gue barusan."
"Gak tau aja lo."
Walaupun Andrea tergolong sebagai spesies manusia introvert, dia tidak lantas menjadi orang yang anti sosial. Di kampusnya Andrea mempunyai banyak teman dan dia juga senang berorganisasi ataupun sekedar membantu teman-temannya jika mengadakan sebuah acara. Selain koleksi koneksinya, dia juga terkenal mahasiswa yang gesit dan tidak peduli apapun yang menghadang apa yang sedang menjadi tugasnya. Perempuan ini adalah orang yang perfeksionis tapi juga masih bisa fleksibel menempatkan diri, kecuali jika dia sendiri sudah sangat merasa tidak nyaman. Sama seperti Aldo yang senang bergaul dengan kalangan manapun. Hanya perbedaannya, Andrea lebih dingin dan introvert, sedangkan Aldo lebih masuk dalam tipe extrovert.
"Makasih udah nganterin gue." ucap Andrea datar tapi tulus.
"No problemo nyonya."
Kembalilah Dre ke kerajaan besarnya. Kamar yang cukup luas untuk menampung segala imajinasi yang beterbangan di udara tanpa membuatnya sesak. Hanya satu hal yang membuatnya sesak ketika berdiri di ubin kamarnya itu. Sebesar apapun dan sebanyak apapun yang telah dia miliki sekarang, hatinya tetap hampa dan selalu menerawang kembali ke masa lalu setiap pertama masuk pintu kamarnya. Seperti ada kata-kata terbang yang menyentil perasaannya, karena kamar ini nyatanya telah menabung seluruh rasa senang, hingga tangis yang mengingatnya pada satu tempat. Rumah.
Kemampuannya untuk mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya dengan lelaki baru bernama Aldo itu seketika terlupakan, entah menguap kemana ketika dia membuka laptop dan melihat wallpaper yang terpampang adalah foto keluarganya. Dalam note dia mengetikan catatan singkat yang mengalir dari beban benaknya setiap malam,
kemana akan aku pergi esok hari
membawa hantu masa lalu yang tak kunjung pergi dari benak ku
membuat langkahku serasa terisak-isak terkadang
bayang-bayang kelam yang selalu tiba-tiba menghunjam kedalam hati
dan mendarah daging tak bisa lenyap
bisakah aku lari dari semuanya
bukan lari dari kenyataan
tapi berlari jauh untuk kembali
kembali memeluk akar penyesalan yang tak seharusnya aku tumbuhkan
Tuhan tolong bawa aku kembali perlahan
aku ingin tertunduk di simpuhannya
biarkan mereka berkata
akulah si sombong yang angkuh
akulah putri yang pengecut
akulah manusia yang tak tahu diri
akulah burung yang gagal terbang bebas
Andrea tertunduk lunglai dan segera merebahkan dirinya di tempat tidur. Merasakan kelelahan yang biasa dia rasakan setiap malam. Lelah fisik, lelah pikiran, dan lelah perasaan. Tapi kelelahan malam ini mungkin sedikit terobati setelah dia mengingat dengan tidak sengaja lukisan abstrak, senja hari, bau tanah sehabis hujan, lapang basket, dan Aldo... dalam ingatannya yang dia bingkai sendiri, mengatuplah mata lelahnya dalam sepi yang mungkin akan menghilang esok hari.
***
Hari berikutnya dan hampir setiap Andrea nongkrong di lapangan basket, Aldo selalu menemani Andrea meskipun hanya sekedar melihatnya di pinggir lapang. Kekakuan diantara mereka semakin mencair layaknya dua orang yang telah mengenal lama. Andrea pun tak sungkan lagi bila berhadapan dengan Aldo. Dia yang seringkali dingin menghadapi orang-orang kali ini terlihat lebih ceria dan bahagia menjalani hidupnya, seperti tidak ada beban memuncak yang dia taruh di otaknya. Terlebih karena adanya Aldo.
Lapangan basket kampus dua minggu kemudian...
Tidak biasanya Aldo tidak datang sore ini, membuat matahari senja kini terlihat lebih pucat, sepucat perasaan Andrea. Sementara menunggu harap-harap cemas, Dre masih saja memainkan bola basket dengan serampangan dan asal, otaknya terus memikirkan satu pertanyaan, kemana Aldo... dan hingga matahari menurun, Aldo tidak nampak juga.
Dre terduduk lunglai di tengah lapang, seakan setengah energinya terbang entah kemana, Dre pun tak tahu kenapa. Dirasanya, tak ada lagi yang bisa menahan dia untuk bertahan di lapang itu. Namun ketika Dre berdiri dari duduknya,dan menuju pintu gerbang lapang dengan gontai, mobil Aldo terparkir tiba-tiba di pinggir jalanan kampus dan Aldo keluar dengan muka yang kusut, tak berselera. Dre berusaha menata kembali perasaan khawatirnya dan tetap bersikap datar.
"Dari mana Do?"
"Dari rumah."
"Kenapa muka lo?"
"Ada hal yang pengen gue ceritain."
Niat Dre untuk pulang ke kostan nya ter pending karena kedatangan Aldo. Hingga burung kelelawar muncul, mereka saling bercerita di tengah lingkaran lapang dengan muka tertunduk, Aldo terlihat sedih.
"Gue pergi dari rumah,nyokap bokap gue ngerencanain mau ngejodohin gue sama anaknya temen lama mereka." kata Aldo lemas.
"Trus kenapa lo harus kayak gini?" tanya Andrea heran.
"Gue gak suka dijodohin bego! dan gue lebih dibegoin lagi, baru dikasih tau hari ini setelah rencana mereka yang udah tercetus 2 tahun lalu. Shit meeeen!"
Mendengar ucapan Aldo barusan rasanya hati Dre luluh lantah berserakan entah kemana. Bukan karena menghadapi kenyataan sahabatnya barunya itu dijodohkan dengan wanita lain, tapi ceritanya mengingatkan kembali alasan kenapa Andrea juga pergi dari rumahnya 2 tahun silam. Sama persis.
"Gue juga...." ucap Andrea sambil tertunduk.
"Kenapa lo tomboy?"
"Gue pergi 2 tahun yang lalu dari rumah karena alasan yang sama kayak lo."
"Serius lo?"
mendengar pernyataan itu, Aldo kontan kaget tidak menyangka bahwa nasibnya akan sama dengan sahabatnya.
"Jadi selama ini lo kabur dari rumah?"
"Bukan kabur, tapi pergi..."
...dan kesedihan yang menyelimuti mereka masih menjadi awan mendung diatas bayangan masing-masing hingga membawa mereka masing-masing untuk pulang. Andrea ke kostan nya dan Aldo, entah kemana. Menelusuri jalanan ibukota tanpa tau akan singgah dimana dirinya.Tiba-tiba dering handphone Aldo berbunyi, tanpa melihat layar nya Aldo langsung mengangkat telepon,
"Nak... pulang ya nak... Mama khawatir..." suara sayu ibunya merubah air muka Aldo menjadi semakin murung. Menyesal.
Sementara itu, di kamar Andrea...
Andrea sedang asik menikmati bintang yang bertaburan diluar jendelanya. Pemandangan yang bagus untuk hati yang sedang tak tau mau dibawa kemana arahnya. Segala macam rasa berkecamuk disitu. Andrea pun tiba-tiba teringat beberapa hal yang telah dilaluinya. Perjodohan, Aldo, dan....
"Astaga! Kenapa gue baru inget!" satu hal terakhir yang benar-benar mengagetkan mata bathin Andrea bahwa selama ini, Aldo yang dia anggap sahabat barunya ternyata belum pernah memanggil namanya barang sekalipun selain panggilan si tomboy.
"Dia kan belum tau nama gue..."
seketika badannya melemah dan matanya mengedip sayu tak karuan. Ingin rasanya dia tak mempedulikannya, tapi bagaimana mungkin orang terdekatnya saat ini belum identitas Andrea yang sebenarnya.
Andrea masih sibuk melamun ketika suara chat di laptopnya berbunyi buzz,
"HEH DRE! GUE KANGEN SAMA LO, pulang dong adikku sayang.. 2 kali puasa dua kali lebaran kamu gak pernah pulang keluarga pun tak senaaaaang..syalalalalaaa." Andre, kakak satu-satunya yang masih tinggal dirumah mencoba membuka pembicaraan dengan Dre lewat chatting nya yang seringkali dilakukan tapi tak perah digubris sama sekali. Baru malam ini Dre terdorong untuk me replay message chat itu.
"Gak usah ngelawak lo Ndre."
"Nah,terus apalagi dong yang bisa menghalangi jalan lo untuk pulang? Kuliah? aaaah lo kayak yang rajin aja kuliah, pulang lah sebentar aja. Nyokap lo kangennya setengah mati, sedihnya juga setengah mati kehilangan anak tomboy satu-satunya ini."
Bunda kangen sama aku?
Pikiran itu terlintas tiba-tiba saja dibenak. Diacuhkannya layar laptop oleh Andrea dan dengan dorongan hatinya dia mengambil handphone yang sedari tadi berada tidak jauh dari tangannya, mencari satu nama di kontaknya dan,
connecting to BUNDA
Tak terasa pipinya tertetesi air mata yang tak tertahankan. Air mata yang berbeda. Air mata kerinduan. Air mata penyesalan.
"Bun..."
Siang hari, di pelataran kampus...
Hari ini Aldo kembali dengan senyum yang biasa menghiasi wajah tampannya. Tak terlihat jelas apa yang sedang menjadi bebannya akhir-akhir ini, tapi Aldo hanya ingin melihat satu wajah yang tiga hari yang lalu menghilang tak Nampak batang rambutnya. Perempuan pendiam yang kini telah berstatus sahabat dengan waktu yang tidak lama. Aldo sendiri kurang percaya dengan perasaannya, kenapa perempuan satu ini begitu cepat menyita perhatiannya sebulan terakhir ini.Padahal kenyataannya, mengenal namanya pun Aldo belum. Aneh. Tapi keinginannya untuk segera menemukan sosok yang dicarinya menghilangkan niatan untuk mempertanyakan siapa nama sebenarnya. "Apalah arti sebuah nama, tomboy..."ucapnya dalam hati.
Hingga senja Aldo masih terduduk ditaman kampus yang bersebalahan dengan lapang basket dan perempuan yang dicarinya rupanya tak datang juga hari ini. Aldo masih harap-harap cemas,memutar otak dan berpikir dimana dia dapat menemukannya. Terlintaslah satu tempat, kafé yang biasa perempuan itu kunjungi beberapa minggu lalu, tepat dua hari setelah mereka bertemu. Berjalanlah Aldo menuju tempat duduk yang biasa disinggahi oleh orang yang dicarinya, namun dia tidak menemukan siapapun disana. Juga disudut yang lainnya. Harapannya menipis perlahan.
"Gue harus cari dia sampai ketemu!"tekad Aldo dalam hati, yang akhirnya membawa dia ke tempat yang menjadi harapan terakhirnya, kostan yang terletak tak jauh dari kampus yang selalu jadi persinggahan terakhir setiap Aldo mengantar gadis tomboy itu pulang. Dia melangkah dengan menggantungkan harapan bahwa orang yang dicarinya berada disini. Namun lagi-lagi, semua seolah terhempas ombak dan menghilang. Dia baru menyadari bahwa bagaimana bisa dia mencari orang yang dia harapkan di kostan berisi 117 kamar tanpa tahu siapa nama orang yang dia ingin temui. Dengan sangat terpaksa dan badan mulai melelah, dia beranjak kembali ke mobilnya dan melesat kembali ke rumahnya dengan enggan.
Tomboy, kemana kamu?
Aku merasa kehilangan setengah dari kekuatanku akhir-akhir ini.
Rasanya aku mulai menyesal tak mempedulikan namamu siapa.
Kenapa tak kutanyakan siapa kamu sebenarnya?
Seindah apa kamu kini dibenakku hinggahanya ada kamu dipikiranku sekarang?
Selalu kamu.
Tomboy, aku rindu...
Lapangan basket rumah Aldo...
Beberapa hari ini terlewati tanpa adanya perubahan. Aldo masih kebingungan mencari kemana si tomboy pergi hingga tak bisa dia temukan dengan mudah di lapang basket atau kafe dekat kampus. Aldo hampir putus asa, dan hari ini mukanya murung tak pernah berubah. Dia pun tak banyak bicara,hanya sesekali melamun. Dalam benaknya timbul bayangan ketika pertama kali mengajak si tomboy bermain di lapang basket rumahnya. Melihatnya dilapang itu, sama dengan melihat sisi dirinya yang lain, yang beda dan terlihat polos.
Dibelakangnya, mama Aldo tiba-tiba datang. "Aldo, minggu ini mama akan mengadakan pertemuan dengan teman lama mama yang pernah mama ceritakan. Kamu ikut ya? Soalnya anaknya teman mama itu juga akan datang, nanti mama kenalkankamu dengan dia."
Tanpa banyak mengadakan perlawan,Aldo mengiyakan perkataan mamanya dengan enggan. Aldo takut jika melawan lagi,mamanya akan kecewa dengannya dan menahan rasa sakit hatinya di dalam hati,membeku, membusuk, dan menyebabkan mamanya yang sudah berusia 45 tahun itu stress.
"Jangan lupa ya nak."
"Iya mah..."
Aldo kembali ditinggal sendiri olehmamanya. Mamanya adalah tipe orang yang senang bekerja hingga larut malam. Jika tidak dikantor, pekerjaannya dia bawa kerumah untuk selanjutnya dikerjakan diruangan kerjanya. Kesibukan orang tua nya membuat Aldo tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Aldo memilih pasrah.
Tomboy, kamu dimana? Aku ingin bicara. Aku ingin tertawa diatas tekanan ini. Bersama kamu. Tertawa diatas pedih.
Minggu terakhir di Bulan Juni...
Aldo mematung di depan cermin,merapikan kemeja biru muda nya dipadankan dengan celana jeans Levis dan sepatu crocs. Hari ini hari Minggu dan dia akan ikut orang tua nya ke suatu pertemuan yang sebenarnya tidak dia harapkan untuk hadir. Namun dia masih saja menguatkan dirinya untuk tidak membuat orang tuanya kecewa. Menguatkan dirinya menghadapi kenyataan berhadapan dengan suatu perjodohan yang tidak dia inginkan. Menguatkan diri dari ketiadaan si tomboy akhir-akhir ini.
"Aldo sayang, ayo kita berangkat..."
Teriakan mamanya dari lantai bawah membuyarkan lamunan alam bawah sadar Aldo yang dari tadi menjadi tempat dia bermain-main dengan bayang-bayang si tomboy. Tomboy, aku pergi bertemu dia yang akan mereka jodohkan. Andaikan ada keajaiban dan kamu disana, menjadi orang yang akan mereka jodohkan, aku ikhlas! Aldo berkata lirih sambil tersenyum miris.
Satu jam cukup untuk keluarga Aldo habiskan selama perjalanan di dalam ibukota yang macet. Maklum, ini hari minggu dimana orang-orang bisa bertambah dua kali lipat sekedar untuk liburan keluar kandang masing-masing. Aldo masih saja terdiam dan sesekali memasang senyum. Senyum palsu.
***
"Selamat datang Bu Nina, Pak Redo.Kami sudah menunggu dari tadi. Silakan masuk."
Terlihat pemandangan sepasang suami istri menyambut kedatangan keluarga Aldo dengan ramah. Pantaslah karena kedua keluarga ini sudah tidak pernah bertemu hampir 1 tahun lamanya karena kesenjangan kesibukan masing-masing. Aldo menyalami teman lama orang tuanya itu dengan ramah.
"Halo Tante Lena, Om Adri. Terima kasih atas penyambutannya yang meriah." Aldo berusaha mengihibur diri sendiri dengan sedikit melempar candaan.
"Ah Aldo bisa aja. Kamu sekarang udah gede ya? Pangling sekali. Eh di dalam banyak makanan, Aldo gak usah sungkan-sungkan ya. Di tempat buah-buahan ada anak tante, lagi nata meja, tolong dibantu boleh? Sekalian kalian bisa kenalan, kali aja berjodoh. Hahahaaa..."
Aldo sangat mengerti apa yang dimaksudkan Tante Lena tanpa harus dikenalkan terlebih dulu anak perempuan yang akan dijodohkan itu padanya. Dengan enggan Aldo beranjak kedalam meraih segelas lemon squash dan berjalan perlahan menuju mejayang memajang buah-buahan segar.
Dari tempatnya, Aldo sejenak memperhatikan perempuan yang sedang berdiri memunggunginya di sebrang sana. Gaun putih yang dikenakannya plus wedges yang dipakai disepasang kaki jenjangnya cukup membuat lelaki manapun tertarik untuk melihatnya. Namun saat itu Aldo masih saja bermalas-malasan. Didekatinya meja buah-buahan itu tanpa melirik sedikitpun pada perempuan yang kini berada tepat disisinya. Dengan cuek Aldo mulai membuka percakapan.
"Gue baru tau ada pelayan makanan yang bajunya semewah lo."
Perempuan yang Aldo ajak bicarapun tak sedikitpun menolehkan pandangannya pada siapa yang mengajaknya bicara. Dengan nada dingin dia menjawab,
"Maaf saya bukan pelayan makanan."
Mendengar jawaban dan suara yang sepertinya tak asing di telinganya, Aldo segera menoleh kesisi kanannya dan matanya mulai meraba-raba sosok yang sepertinya familiar.
"Tomboy!"
Mendengar panggilan itu, perempuan itupun balik menoleh.
"Aldo!"
Tanpa banyak basa-basi Aldo segera mencurahkan perasaannya selama ini yang sempat tertahan oleh rasa kehilangan yang amat mengganggu.
"Tomboy lo kemana aja? Gue nyari-nyari lo beberapa hari ini. Jujur gue mulai merasa kehilangan, boy..." ucap Aldo sambil mengacak-ngacak rambut Andrea saking senangnya.
Sayangnya,Andrea tidak seekspresif Aldo yang bisa dengan gamblang mengucapkan kata hatinya begitu saja. Andrea hanya bisa membalas dengan senyuman dan satu kalimat,
"Gue seneng ngeliat lo disini."
"Tomboy,gue juga seneng ngeliat lo disini. Gue harus jujur sama lo, gue kangen lo, boy!
Lagi-lagi Andrea hanya tersenyum menangkap sinyal tersirat diantara mereka.
"Tomboy,gue mohon jangan menghilang tiba-tiba lagi ya..."
Andrea masih tersenyum.
"Tomboy,gue sayang sama lo."
Senyum yang terbingkai di wajah Andrea makin merekah.
",dan satu hal lagi yang mau gue tanya, nama lo..."
Andrea menarik nafas panjang. Sepertinya pertanyaan inilah yang ia tunggu sejak dulu.Pertanyaan dari lelaki yang berhasil merebut rasanya sebulan terakhir ini.Senyum yang terukir itu terlihat sangat manis ketika dia bilang,
"Gue Andrea Gibrani Azalea. Dan gue anak Tante Lena."
Minggu terakhir di bulan Juni. Semua ketakutan, kekhawatiran, kemarahan mencair menjadi satu rasa. Minggu terakhahir di bulan Juni, awal kisah yang mengantar kesakitan menjadi kebahagiaan yang teriring dengan ketulusan yang sepenuhnya,yang mengantarkan penderitaan yang terjal menjadi amat menyenangkan, dan merubah kemarahan menjadi perasaan yang begitu nyaman.
"Andrea,Aldo sayang kamu..."
"Aldo,Andrea sayang kamu..."
***