13 November 2010

Kita sendiri tahu, setelah mendung masih akan ada pelangi....

Semua ada waktunya

Inilah yang terjadi,

jika perasaan terlalu pekat larut dalam keadaan

semuanya ikut larut

semuanya ikut tercampur

hingga rasa lain bias bahkan hilang entah kemana

tak bisa juga jika menyalahkan keadaan

memang kita yang salah

atau mungkin sikap yang salah

terlalu cepat membahasakan sikap

terlalu cepat menangkap rasa

selalu berakhir seperti ini

berakhir lagi

bukan karena memang "ada awal maka ada akhir",

tapi memang terkadang harus diakhiri lebih awal

da membuat awal yang baru

daripada semuanya terlambat terbuka

tentang asa,rasa,selimut jiwa dan bayang-bayang trauma

memang lebih baik melepaskan saja

karena terkadang hal yang baik tidak selamanya menyenangkan diawal

aku tau ini akan menyakitkan dulu

terbiasalah dengan kekecewaan

karena itu vang membuat kita belajar bersyukur dengan adanya kebahagiaan

kita sendiri tahu kan, setelah hujan masih akan ada matahari,

setelah mendung masih akan ada pelangi,

dan setelah malam masih akan ada pagi,

maka belajarlah menaklukan perubahan

atau kau memilih menetap dalam persimpangan?

dalam jembatan ini, memang ada rahasia...

dalam jembatan ini ada rahasia

ada mawar yang mengembang bersama duri tajam

ada malam dengan hujan yang deras

ada rasa tapi sepertinya hampa

ada senyum tanpa arti

ada barisan laba-laba mengutas jaring

aku tak sendiri tapi merasa kosong

ada keributan tapi masih merasa kesepian

ada jalan lapang tapi terlihat jauh menembusnya

ada tetesan air menyejukan tapi tak bisa menyentuhnya

ada banyak nyawa tapi rasanya tak ku kenal

sampai kapan kutelusuri jalan sulit ini?

hei teman, samakah jalanmu seperti apa yang kulewati?

jika kau sampai lebih dulu, kenapa tak juga memanggilku?

atau sengaja kau tinggalkan aku dengan langkah ringkih?

taukah kalian aku tertatih mengartikan semuanya?

dan aku merasa memahami sendiri

tanpa siapapun.

Berhentilah bermain pengecut!

ternyata anda sama saja dengan dia.

menabur benih cinta dimanapun anda suka.

mendekat dengan perilaku sangat halus kepada banyak wanita,

menjanjikan hal-hal yang indah kepada mereka,

memujinya,

memujanya,

merayunya dengan sedikit kelicikan dan kebohongan.

lalu anda dengan mudah memilih satu hati diantara mereka,

padahal anda tau harapan itu telah anda tanamkan secara tidak sadar sejak awal anda menatap dan menyentuh rasanya.

bukan hanya di satu hati saja, tapi disetiap wanita yang anda singgahi.

pernahkan berpikir bahwa hal yang menyakitkan bagi wanita adalah menjadi pilihan diantara beberapa pilihan yang sengaja anda buat?

pernahkan berpikir bahwa sangat menyedihkannya wanita ketika harapan yang telah dengan tidak sengaja kau tanam itu bersautan dengan hatinya dan akhirnya anda abaikan?

pernahkah berpikir bahwa wanita akan merasa tak berguna disaat hatinya telah pelan-pelan menumbuhkan simpati pada anda tapi anda biarkan?

pernahkah anda berpikir bahwa bahasa lembut yang terkadang tercampur bualan itu akan sangat membuat wanita merasa bodoh dengan sendirinya ketika anda tidak memilihnya?

pernahkah anda berpikir untuk HANYA MEMILIH satu wanita saja untuk dijadikan teman setia, bukan MEMILIH BANYAK WANITA untuk didekati dan tinggal menunggu hasilnya siapa yang paling berhasil dipikat olehmu?

aku lebih baik tidak menjadi pilihan diantara mereka.

saya bosan, saya benci.

adakah pilihan yang lebih baik untuk hanya memilih satu saja?

atau, mungkin anda memang pengecut?

ya. saya rasa anda memang pengecut.

sendu mengundang rindu

Aku masih saja memikirkanmu dibawah sendu yang belum saja menghilang
Ketika angin bercumbu di antara denyut nadiku
Sumbu sepi belum padam juga
Kemana bayangan ini akan mengadu nantinya
Kadang serba salah ketika akal beradu dengan rasa
Lantas kemanakah si madu beracun itu?
Disini mata sayu masih saja setia merangkai makna keresahan
Atau mungkin, ini yang namanya rindu?

... masih saja, kosong.

Merasa kekosongan pada ruang berpikir adalah petaka bagiku
Hingga tak ada lagi yang bisa aku bayangkan
Yang mampu aku gambarkan
Bisikan angin pembawa rindupun rasanya tak bisa aku dengar

Belahan hati mana yang tertusuk, bocor, dan membuatnya tak bernyawa?
Rasanya untuk itu pun aku tak bisa merasa nya sedikitpun
Kemana rasanya?
Pergi kemana asa nya?
Bersembunyi dimana khayalnya?
Aku sudah diam dan tak bergerak masih saja tak datang secercah pun

Layaknya mati tanpa jejak
Deretan kata itu menguap tanpa sebab
Sekalipun aku telah membuka yang baru lembar demi lembar
Masih saja aku tak tahu apa yang akan mengisi otakku

Rasanya aku masih ingat bahwa sebilah pisau tak ada artinya dimataku
Lesatan peluru masih tak berharga dihidupku
Aku hanya butuh lahan kosong untuk bermain dengan alphabet
Tapi kenapa sampai sekarang masih kosong?
Memangnya dimana aku sekarang?

hidupku tak perlukan munafik itu..

Harusnya memang lebih baik diam
Aku lelah bercerita
Selalu itu saja yang dipertanyakan
Tak ada celah untuk menghindar meski hanya sebentar
Aku ingin tenang
Tak dengar bual-bual tak penting
Mungkin sebaiknya kamu, kamu, kamu, pergi saja
Hidupku tak perlukan munafik itu
Hidupku tak perlukan gengsi besarmu itu
Hidupku tak perlukan ego mu yang tinggi itu
Karena memang aku sudah mulai, bosan...

MAMA ITU MALAIKAT

dini hari yang lalu di bulan puasa ini, mama yang biasanya bangun lebih dulu sekitar jam 3 pagi, kemarin bangun lebih telat, sekitar jam setengah 4 pagi. semalaman, mama kelelahan.

beliau adalah wanita karier yang setiap harinya pergi bekerja jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore. sepulangnya dia langsung menyiapkan makanan untuk makan malam, ataupun berbuka untuk bulan puasa ini. setelah menyiapkan makanan, mama duduk di sofa putih mengurusi dokumen-dokumen kantor maupun urusan RW. kebetulan tahun ini, papa terpilih menjadi ketua RW di kompleks rumah. jadi mama menjadi sekertaris pribadi yang selalu setia menghandle urusan-urusan kerukunwargaan. sampai malam, ketika mama kelelahan dan mengantuk mama sering bilang pada saya, "Nak, tidur 5 menit ya.." saya cuma bisa mengiyakan dan mengerti bahwa kata "5 menit" baginya adalah lebih dari sejam. itu hanya makna khiasan. tapi biarlah, mama sudah terlihat kelelahan.

di tengah hari ketika waktunya saya tidur, saya sering mendengar sayup-sayup mama mengetik di komputer dekat kamar, atau suara air bak menyala, atau suara mesin cuci sedang spinning, bahkan penyedot debu yang sedang mama mainkan dari sisi rumah ke sisi yang lain. ternyata, pada tengah malamlah mama membereskan seluruh kebutuhan rumah sampai piring dan benda-benda kotor lainnya, hingga dini hari menjelang.

di malam kemarin ketika kami akan sahur, di dalam magic jar (tempat penghangat dan menanak nasi) tinggal tersisa nasi untuk 2 porsi. "Maaf ya mama telat bangun, itu nasi buat anak-anak aja dulu, mama lagi buat nasi baru tapi belum mateng." akhirnya nasi itu kami bagi 3. untuk saya, kakak dan papa.

Alhamdulillah bisa sahur juga saya malam ini. saya makan dengan lahap, begitupun kakak dan papa. hingga kami selesai makan dan meminum suplemen yang mama berikan untuk kesehatan keluarga, nasi yang dinanak belum matang juga. mama dan ibu (nenek.red) lah yang menjadi waiting list. sampai jam 04.00, 04.10, 04.15, 04.18 dan nasinya belum juga matang. "Bu, nasinya belum juga matang." kata mama.

akhirnya sambil menunggu dan masih menunggu, mama dan ibu menyeduh semangkuk outmeal. melihat itu, saya baru sadar betapa serakahnya saya tidak bisa membagi nasi bagian saya dengan mama dan ibu. saya masih terdiam. hingga imsak menjelang...

"udah imsak nak." mama mengingatkan kami.

entah kenapa ketika mama bilang "udah imsak nak." saya serasa ingin menangis menyesal. sebegitu besarnya pengorbanan mama untuk keluarganya sampai harus merelakan sisa nasi yang tinggal sedikit lagi untuk makan anaknya dulu. tapi mama seperti tidak punya beban apapun. mama tidak protes. mama tidak mengeluh. mama tidak marah. mama malah senang.

ketika adzan subuh berkumandang, saya segera masuk kamar mandi untuk berwudlu. sebenarnya bukan karena ingin cepat-cepat berwudlu, tapi karena saya malu terlihat menangis di depan mama dan papa. makanya, saya buru-buru berwudlu sekalian membasuh muka sedih saya. Ya Alloh astagfirulloh.

selesai berwudlu, saya masuk kamar dan didalamnya ibu sedang menyelesaikan rokaat terakhir. sambil menunggu giliran solat, saya duduk dipinggir ibu dan menangis seketika. menangis mengingat mama. sedih melihat mama tidak bisa sahur hari ini, padahal saya tau mama harus bekerja. mama butuh makan. mama punya maag. saya masih menangis. cuma bisa menangis. astagfirulloh.

sampai akhirnya ibu selesai solat...

"kenapa kamu nang?"

"mama gak sahur bu. ibu juga. maaf yaa tadi nonon gak ngebagi nasinya buat ibu sama mama.maaf yaa.."

"gak apa-apa nang, insyaalloh ibu sama mama kuat. kan tadi udah makan outmeal. doain ya sama nonon semoga mama sama ibu bisa puasa hari ini."

"...."

saya belum bisa bilang apa-apa. saya masih ingin menangis. sesak di dada saya belum hilang. rasanya saya jadi anak yang tidak tau diri. rasanya mama baik sekali tidak pernah ada cacat. mama itu malaikat.

saya solat. saya masih berusaha menahan tangis, hingga 2 rokaat saya selesaikan, saya berdoa seperti apa yang ibu pinta tadi. selesai mengusap airmata untuk kesekian kali, saya keluar kamar dan menemukan mama tertidur didepan tv. saya tidak bisa lagi menahan tangis. saya peluk mama disana, saya menangis di punggung mama sambil bilang, "mama gak sahur.maaf ya mah.."

ajaibnya mama cuma bilang, "gak apa-apa nak, yang penting anon bisa makan. mama doain supaya anon selalu hidup bekecukupan nantinya,soleh,pinter,dapet jodoh yang baik buat nonon,hidup enak,amin."

"tapi kan mama kerja.." (masih nangis kayak anak gak punya balon)

"biar doain aja mama kuat ya nak! semoga puasa hari ini berkah."

mama lalu mencium kening saya dan meneruskan tidurnya.

mama,

mama,

mama,

mama itu malaikat.

mama, anon sayang mama.

aku tahu khayalan memang terkadang tak masuk akal. lantas, siapa yang peduli?

itu pantai

aku ingin berlari kesana

disana ada ombak, matahari senja diujung laut, bulan yang menyaksikan ombak menepi, bintang yang bertaburan lebih dekat

aku ingin duduk di pinggirnya

merasakan pasir berbisik berhamburan

menarik nafas panjang melegakan

berpikir untuk membuat negeri impianku disana

bukankah menyenangkan bisa tinggal bersama putri duyung yang cantik dan dewa laut tampan?

setiap hari aku akan berhiaskan mutiara dan bertahtakan kerajaan kerang raksasa

tapi, pangeran pun aku belum punya

itu gunung

aku ingin mendaki kepuncak

hawa dinginnya, suara alamnya, udara bebasnya, menyenangkan !

disana aku ingin berteriak kencang

lepaslah beban yang tertahan

dan mendaki lagi

berjalan melewati lorong pepohonan menjulang, semak belukar, bau tanah basah

biar begitu jalannya

aku serasa berjalan dengan satu arah tujuan tanpa penunjuk arah

andai kaki ini bersayap, terbang saja aku sampai puncak

itu tebing tinggi

aku ingin kesana

bermain paralayang, terbang ke awan, melintasi pelangi yang melingkar,

berjalan sebentar saja disana

siapa tahu aku bertemu putri hujan

lalu aku terbang lagi, menembus batas angkasa, mencuri satu bintang terkecil dan kuselipkan di benakku

kuharap akan selamanya bintang itu hidup

sekalipun ketika aku sampai di daratan

akankah bintang itu hidup?

ini udara lepas

aku melepaskan bias bayang-bayang mimpi

meliar bak angin petang

biarkan dia pergi kemanapun

aku tahu khayalan memang terkadang tak masuk akal

lantas, siapa yang peduli?

bukankah mereka selalu bilang tak ada yang tak mungkin?

jika mengkhayal memang tak masuk akal

maka aku adalah orang yang tak berakal

dan... rasanya aku memang ingin tak peduli

...padaNya aku titipkan doa kecil, lalu kuterbangkan tanpa sayap...

Dia tahu tanah dehidrasi

Dia tahu padi gagal menjadi nasi

Dia tahu daun mengering lebih pagi

Dia tahu ulat lambat berevolusi

Dia tahu..

ini,

maka dari itu hujan masih terdengar gemericik juga

bulir bulir air masih bergulir

sedetik seribu tetes

tengah malam kian kelam

dinginnya hawa alam

padaNya aku titipkan doa kecil,

lalu kuterbangkan tanpa sayap

hanya lewat harap

hujan ini tak akan membuat malam lebih gelap

dan masih membiarkan manusia tertidur lelap

ya.. kuharap...