Hai malam.
Lihatlah aku, hampir mengeluh dengan segala kekosongan dalam pikiranku. Aku terjebak dalam kebuasan angin malam yang mendiamkan. Hanya membuatku mematung dan tetap terjaga. Jika semua udaranya buat kalimat-kalimat bias itu mematung juga, buat mereka mematung di depan mataku. Tapi itu tak bisa! Dan akhirnya selalu membuatku buntu lagi buntu lagi tak bisa melarikan angan ini keluar jeruji mimpi.
Heemm, malam.
Entah kau bisa membenarkan emosiku malam ini atau hanya mendengarkannya, atau bahkan tidak menghiraukannya sama sekali. Aku hanya ingin berbicara padamu. Tapi sesekali muncul tanya dalam benakku, kemana inspirasi yang selalu kau beri padaku dulu? Yang selalu kau undang masuk ke otakku dengan serentak dan mudah dulu? Yang tak perlu dengan cara menangis jika kata-kata bias itu hilang, yang tak perlu terjebak dalam kemarahan sesaat jika satu ilham datang dan pergi begitu saja, yang tak perlu menundukan kepala menyesali diri sendiri ketika tak berhasil menangkap rangkaian makna yang tersirat. Kemana semua inspirasi itu pergi?
Oh malam.
Sungguh ini akan menyiksaku terlalu dalam. Menyiksa malamku yang biasanya kutunggu-tunggu mulai petang menjelang hingga fajar menerbit. Menyiksa dengan berbagai kekosongan yang ada. Hanya lamunan yang ada. Hanya lamunan. Hidup menyampah dengan kekosongan. Kekosongan akal dan ilham.
Ah, malam.
Entah aku ingin menulis apa. Rasanya sulit sekali mendefinisikan yang terjadi. Mengimpretasikan rangakaian huruf tak terlihat yang melayang di depan sadarku namun masih saja tak dapat ku sentuh dan kurangkai dalam tulisan. Masih saja sulit. Padahal dulu tak begitu. Dulu begitu terasa sangat mudah meluncur di pikiranku. Begitu mudah kumuntahkan kedalam tulisan. Dulu, ya begitu mudah sebelum suatu hal membunuh hampir semuanya. Membunuh bakatku. Membunuh kekuatanku. Memati surikan nyawa yang dulu dapat dengan mudah kutuangkan nafas-nafasnya kedalam benak cerita singkat, atau sekedar sajak yang padat namun rasanya mudah kudapat. Itu dulu malam! Dulu. Kenapa tak kau tahan sampai sekarang???!!
Malam.
Apa kamu merasa aku salahi? Atau kau berpikir akulah yang membodohi diri sendiri? Aku memang tak kuat menggenggam kesejukan ilham-iham yang sebenarnya mash selalu ada di pagiku, siangku, bahkan malamku. Yang sebenarnya masih selalu tersirat di setiap tetes embun, rintik hujan, garis pelangi, terik mentari, semilir angin, dan sinar rembulan di gelapnya hari. Yang sebenarnya masih mengalun dalam ketukan-ketukan halus, irama yang cepat, hingga nada yang mendayu. Aku sudah berusaha ikuti ritme nya, tapi aku merasa masih saja merasa kehilangan.
Ya, malam.
Bukannya aku bersedih dengan keberadaan aku yang kini mengikuti waktu yang sedang berpacu. Aku hanya merasa sepertinya harus menyalahkan diriku sendiri yang melewatkan hal-hal yang harusnya kuterjemahkan kedalam tulisan. Agar itu dapat terbaca begitu indah sekalipun kepedihan yang terasa. Tapi mana kepekaanku yang dulu senang menyentuh batinku? Apa dia terbuang bersama arus ego ku? Mohon jangan biarkan aku terus memarahi diriku sendiri. Katakan sesuatu, malam.
Baiklah, malam.
Ya mungkin aku memang membodohi diri sendiri. Sedang apa aku ini, berbicara dengan objek yang tak akan pernah bisa menjawab curahan emosiku. Bahkan tembok-tembok kokoh yang mereka bilang menyimpan banyak rahasia dari apa yang selalu mereka dengar dari percakapan manusia sekitarnya pun tak bisa berteriak padaku untuk sekedar berkata, “Jangan menyerah. Teruslah mencari.” Teruslah mencari, sampai kapan? Aku tahu aku harus bertahan, sampai kapan? Aku tahu aku harus tetap berjalan sampai titik yang bisa membawaku kepada cahaya ilham disimpang jalan yang menemukanku kepada arah yang akan membenarkan perasaanku, tapi sampai dimana? Sampai kilometer berapa? Sampai persimpangan yang ke berapa? Sampai sejauh apa aku harus berjalan, pelan-pelan makin cepat, dan akhirnya berlari saking takutnya aku akan tertinggal oleh hal yang harusnya aku dapatkan?
Malam.
Oh inspirasi, kemana perginya rangkaian cerita itu? Jalanan sajak yang mengalir kuat itu? Atau sekedar penguat hati untuk seorang aku? Lagi-lagi aku bertanya kemana? Sampai nanti lama-kelamaan aku bertanya kenapa, dan kau masih saja berdiam dalam sunyimu, jangan paksa aku untuk merasa nyaman melewati malam-malamku bersama dinginnya kekosongan yang mulai senang mengusik ku. Jangan paksa aku memuntahkan kalimat demi kalimat disaat segala hal masih saja tak dapat kutangkap.
Malam.
Kau tau apa rasanya ini? Seperti ingin kesal tapi….aaaah! seperti ingin marah tapi aku tak berhak! Seperti ingin banyak bertanya tapi tak ada yang mau menjawabku! Seperti berputus asa tapi aku masih ingin maju! Seperti ingin berhenti tapi selalu ingin lebih jauh berlari! Seperti ingin membunuh otak sendiri dan menggantinya dengan yang lebih wangi biar mengundang sesuatu yang dapat mengilhami (meski aku tahu ini hanya mimpi)! Lihat, semakin parah aku berobsesi semakin jauh aku dari inspirasi! Apa tega kau biarkan aku terus begini!!??!
Oh malam.
Apa begitu menyiksa rasanya merasa kehilangan begitu banyak inspirasi? Apa begitu menyedihkannya tak dapat memunculkan karya rasa yang saling bersinergi? Apa begitu menyesaknya ketika aku tak tahu lagi apa yang harus ku ceritakan pada lembar-lembar bisu di sekelilingku? Apa begitu merasa bersalahnya jika tak mampu lagi mengungkapkan apa yang harusnya bisa aku ungkapkan?
Malam.
Jawab aku? Adakah jalan lain untuk menemukan semuanya kembali?
Malam.
Jawab aku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar