Wajahnya pucat pasi. Dia sedang melawan nyawa yang mau mati. Banyak bunga mawar disekelilingnya, tapi sudah perlahan merunduk dan akan membusuk. Bunga mawar, bunga kesayangannya. Bunga yang mudah mati, katanya seperti dirinya, mudah mati.
Dia terbaring lemah dengan sel darah putih yang berhasil merajai tubuhnya. Degup jantungnya tidak terlalu terdengar nyaring lagi, seperti tawanya yang mulai mebisu. Denyut nadinya tida seagresif dulu ketika senyum diwajahnya selalu muncul dengan mudah. Hidupnya memang terlihat singkat, sesingkat ketika dia sadarkan diri dari matanya yang mengatup, mengedip, melirik sedikit, dan mengatup lagi, dan tak rasakan apa-apa lagi.
Kubisikan pada bulan yang hanya menjadi sabit malam ini. Aku tak hiraukan angin dingin kali ini. Seperti yang dia mau, aku sampaikan pertanyan yang sering mengusiknya, bahwa masih adakah harapan untuknya bernafas dengan tenang lagi? Berlari dengan senang lagi? Bahkan hanya berjalan dengan nyaman lagi?
"Biar Tuhan menjawabmu lewat tidur-tidurmu yang nyenyak itu. Yang ketidaksadarannya dikelilingi beberapa selang pembantu kehidupan." Aku lihat dia tak lagi bersedih, dia tak lagi berair mata. Maka kusimpulkan ini lebih baik. Tapi tidak lebih baik jika dibandingkan ketika dia sedang senang berbicara tentang cara hidupnya yang tak hiraukan garis mati yang dia tahu sebenarnya. Dia hanya menjadi gadis yang berjalan sebagaimana biasanya, tersenyum dan menangis sebagaimana biasanya tanpa mengeluh bahwa sebentar lagi semuanya akan usai. "Aku tidak pernah menyesal apa yang terjadi. Menyesalinya sama saja menyesali kehidupan yang telah dibentuk Tuhan. Maka, semakin murka saja sepertinya Tuhan padaku."
Ya, Kau hanya menerima semuanya dengan baik, kau bilang, "Takdirku sudah tersurat sejak awal. Jika aku ingin protes, aku harus kembali ke awal"
Takdir Tuhan siapa yang tahu. Terakhir dia membakar semangatnya dipadang rumput, berlarian mengejar kunang-kunang yang selalu bercahaya dalam kegelapan. Dia tidak pernah takut bayangan, karena bayangan bukannya pertanda masih ada cahaya? Maka sebelum ruangan benar-benar gelap, dia tidak mau berhenti bergerak.
Maka berhentilah dia bergerak malam ini. Matanya sudah gelap. Pandangannya sudah tak bisa menerima sinyal cahaya. Mesin pendeteksi detak jantung itupun makin melemah, melemah, melemah, dan berbunyi nyaring dengan visualisasi garis horizontal.
Hujan larut dalam rumput kering. Kesedihan merona di malam yang terasa suram. Sekarang dia benar-benar pergi. Aku rasa Tuhan sudah menjawab pertanyaan besarnya. Dia menuntunnya pergi untuk melihat harapan di dunia berbeda. Nyawanya melangkah meninggalkan semua yang hidup. Tanpa mengucapkan sampai bertemu lagi. Tanpa melambaikan tangan kanan dan kiri. Yah, terkadang kepergian memang tidak perlu diiringi tanda perpisahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar