17 Januari 2011

Hari ini belajar apa?

Alhamdulillah...

Hari ini bisa keluar melihat banyak orang, melihat banyak keadaan dan melihat banyak kejadian. Itu semua bisa jadi ladang buat belajar tentang kehidupan.


Pertama.

Saya sedang melamun di waiting room bengkel mobil. Tiba-tiba ada mobil bak butut yang menurut perkiraan saya mengangkut banyak oli dirigen. Mobil itu melintas masuk ke area bengkel yang sekelilingnya terparkir mobil-mobil modern yang visualisasinya lebih bagus. Saya tersenyum,

"Ada si miskin, dan ada si kaya. Harusnya mereka bisa saling melengkapi dengan baik. Adanya si miskin harusnya bisa menjadi bahan renungan untuk si kaya. Adanya si kaya harusnya bisa menjadi bahan motivasi untuk si miskin. Alangkah indah bukan jika hidup saling melengkapi?"


Kedua.

Masih di bengkel, melihat cuaca sehabis hujan. Bau tanahnya menyejukan. Butir airnya masih beku dipermukaan tanah. Saya memutar otak,

"Jika dengan melihat sebulir rintik hujan saja manusia bisa berpikir, apalagi jika melihat hamparan hutan dan setumpuk uang? Kekuatan berpikir manusia memang luar biasa. Tergantung dari si pemikirnya menggunakan seperti apa."


Ketiga.

Akhirnya, saya keluar bengkel dan melaju diatas jalan protokol Soekarno Hatta, diluar sinar matahari sore hari terasa hangat sehabis hujan. Jalanan yang mulai kering dan padatnya kendaraan dengan tujuannya masing-masing. Saya berpikir,

"Bersyukurlah punya hidup yang didalamnya masih bisa menyimpan sejuta senyum dan kenikmatan. Semua orang tetap mencari kebahagiaan sepanjang hidupnya dengan cara yang berbeda-beda. Tuhan menciptakan perbedaan di dunia ini agar manusia saling berpikir bagaimana hal ini bisa menjadi menyenangkan, bukan malah menjadi pertentangan."


Keempat.

Menuju Jalan M. Toha, setelah itu menuju tol untuk pulang. Di traffic light dekat pintu tol, seorang lelaki cacat masih memegang kamoceng di tangannya, menghampiri mobil-mobil yang berhenti ketika lampu merah dengan senyum. Saya tahu dia mengharapkan nasib baik ari para pengemudi mobil di persimpangan jalan ini. Saya merenung,

"Cacat, panas, senyum, kamoceng. Meskipun punya kekurangan, tapi masih ada kemauan untuk berusaha mencari rezeki. Senyumnya, itu tanda ikhlas akan takdirnya. Patutlah saya bersyukur dengan segala berkah yang ada di hidup saya, karena diluar sana masih ada yang tidak seberuntung saya. Tidak seberuntung kita."


Kelima.

Lampu hijau, saya melaju masuk pintu tol disambut sinar matahari yang, silau tapi tidak galak. Sedikit menyengat tapi mendamaikan. Saya berucap,

"Terima kasih Tuhan atas sore hari yang indah."


Keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya, semuanya masih tentang kekuatan dan rasa syukur atas nikmat Tuhan hari ini, masa lalu dan masa depan.

Jadi seharusnya, masih pantaskah mengeluh?

Tidak ada komentar: