Selamat malam, malam. Lagi-lagi berbicara dengan malam. Mengapa bukan pagi, siang, atau sore? Yasudahlah tidak perlu dipermasalahkan. Toh aku juga lebih suka malam.
Malam. Lihat muka ku sekarang? Kusut ya? Jangan menawarkan aku setrikaan panas karena itu tidak mungkin ku pergunakan. Jangan juga menawarkan angin malam yang mendamaikan karena aku bisa-bisa masuk angin. Heem, oiya, jangan menawarkan segelas caffeine juga, itu sudah sedikit aku kurangi sebelum aku mabuk dengan perkopian. Jadi pantasnya kamu menawarkan apa? Pantasnya kamu menawarkan rumah!
Aku ingin pulang, malam. Aku ingin bebas dari semua tekanan disini. Tekanan sosial, tekanan belajar teori, tekanan rutinitas, tekanan “garis mati”, tekanan angin besar, tekanan udara dingin, tekanan panas terik, tekanan kesepian, tekanan merasa jauh dari tempat aku berasal, tekanan dari sulitnya orang-orang, tekanan teman-teman menyebalkan, tekanan dari sulitnya menjadi sedikit lebih jahat, tekanan dari kegelisahan, tekanan dari……….. aaaaaaah, banyak sekali yaaa?
Aku masih bisa bertahan sebenarnya. Ya, masih bisa. Tapi malam ini suasana hatiku sedang rusak. Kacau balau berantakan. Seharusnya aku menyembuhkannya sendiri. Tapi entah kenapa, hiruk pikuk sekali jiwaku, ribut sekali bathinku, sempit sekali pernapasanku, buntu sekali pikiranku, dan yayayayaaa… kalimatnya mengambang karena memang pikiranku masih belum cukup merangkai klimaks dari kalimat itu.
Aku ingin menemukanmu disini kekasihku. Hei malam, apa kabar dengannya? Jika angin mu besar jauh menghembus kesana, kedadanya, tolong sampaikan rinduku padanya ya. Meskipun sebenarnya malam ini kami sedang saling berdiam diri. Saling? Ya, seperti yang kita janjikan, kita akan selalu “saling” dalam hal apapun, termasuk saling diam. Hahhaa.. aku yakin suatu saat ketika hal ini kita kenang, kita pasti akan saling melempar senyum bahkan tertawa. Ya, aku pasti akan sangat suka moment itu.
Halo kekasihku, aku sudah mengirim tanda kecup sayang lewat angin malam yang mungkin saja bisa sampai ke pelukanmu. Aku gelisah, aku resah. Aku khawatir, aku kesal. Aku bingung, aku marah. Tapi aku sayang, aku rindu. Perasaan yang tidak konsisten.
Malam. Malam. Malam. Apa ini yang namanya sangat rindu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar