Hai Aden,
Lama kita tidak bertemu, sejak pertemuan terakhir di 24 Desember 2010. Waktu itu masih musim dingin, hujan sering turun dengan deras. Tapi entah mengapa, saat aku ada kamu, hujan mendadak tidak turun sama sekali. Ya, memang sedikit mendung. Tapi langit sepertinya tidak membiarkan kita berdua terguyur hujan.
Aden,
Tahukah kamu aku rindu sekali melihat wajahmu. Meskipun setiap hari kita selalu berkomunikasi dengan baik dari pagi sampai malam, dari terbangun dari tidur hingga tertidur lagi, dari mata yang berkaburan hingga mata yang kantuk, dari melarikan diri dari mimpi-mimpi tak nyata hingga kembali ke mimpi-mimpi itu lagi. Terus seperti itu tapi aku tidak juga merasa bosan seperti ini beberapa tahun terakhir.
Aden,
Hahaa.. aku tau kamu pasti benci ketika aku panggil kamu Aden. Kenapa sih? Ada apa? Padahal nama itu begitu berartinya di ingatanku. Kamu tau kenapa? Dengan nama ini aku merasa mengenalmu jauh lebih lama dari kenyataannya. Itu nama panggilan kecilmu kan? Maka dari itu, aku akan merasa dekat dengan masa lalumu, masa kecilmu seakan-akan dulu kita pernah bermain bersama ketika masih kecil, merakit mobil-mobilan bersama dengan khayalan nanti ketika kita beranjak dewasa kita akan pergi menggunakannya menuju tempat lain dan bersenang-senang, atau juga membuat perahu kertas dengan khayalan kita akan pergi berpesiar menelusuri jagat laut yang berombak, melihat matahari terbenam di tengah samudera dan menikmati secangkir teh di ujung perahu. Indahnya membayangkan khayalan. Khayalan masa kecil yang selalu bagus, tidak ada yang terangkai buruk.
Aden,
Baiklah, mungkin aku hanya bisa memakai nama ini di catatanku saja. Nama yang mengkhiaskan satu wujud yang lebih indah dari yang orang lain fikirkan. Tentunya karena aku berpikir yang beda dari yang lain. Bukan hanya berpikir dari apa yang dilihat tapi juga melihat dengan perasaan yang tulus, yang telah terasah beberapa tahun terakhir ini. Waktu yang lama ya, Den?
Aden,
Kamu bersikeras memintaku untuk jangan memanggilmu Aden, karena itu akan terkesan kau lah orang yang berada di strata atas, kau bilang itu panggilan untuk “orang besar”. Aku hanya bisa bilang, “Iya.” Apalagi alasannya jika bukan untuk menenangkanmu dan tidak membuatmu kesal padaku. Padahal besar rasanya keinginanku meskipun hanya merintih memanggil Aden di depan mukamu apapun kondisimu sekalipun kamu sedang mengantuk dan mulai bimbang antara sadar dan tidak sadar. Hahaha.. sepertinya kondisi itu memudahkanku untuk memanggilmu, “Aden” sambil mengusap rambut berponimu. Poni yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan poni masa kecilmu. Rata menutupi dahi. Hanya dulu kamu terlihat lebih tembem dan gemuk. Sekarang tidak lagi. Tidak tahunya kamu bahwa kamu memang telah menjadi orang besar dihatiku. Orang yang telah membesarkan hatiku untuk menerima perbedaan.
Aden,
Atau apapun caraku memanggilmu. Apapunlah. Mungkin kamu juga tidak akan menghiraukan catatanku ini. Ini hanya agar kamu tahu bahwa aku telah “belajar dengan giat” untuk menerima segala kekurangan dan kelebihanmu dari tahun ke tahun, masa lalu dan msa depanmu kelak. Aku hanya ingin selalu merasa dekat denganmu sejauh apapun jarak yang masih terbentang antara kamu dan aku. Jadi, biarlah aku tetap memanggilmu seperti itu, walaupun sebenarnya kamu tidak tau.
Aden,
Jangan marah ya. Jika kamu membaca ini, kamu hanya boleh tersenyum. Selamat malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar