14 Juli 2010

aku tau, ini akan menjadi kalimat yang.... klise.

... dan kebenaran yang telah lama terpendam masih tersimpan di peti mati hatiku. Kebenaran itu masih mati suri, dan baru sekali ini memburuku...
jika kamu ada dihadapanku malam ini, tolong acuhkan aku, aku hanya ingin berbicara pada angin malam yang entah akan membawa kisah ini kemana..

..........................
.....................

Kamu,
akhir-akhir ini aku bersikeras mempelajari perasaan apa yang berkecamuk di benakku. Aku harap akan ada muara yang pasti yang bisa membawa semua rasa ini hingga aku tau bahwa tidak akan ada apa-apa yang akan mengikat akalku pada bayangmu.

Hei!
waktu tidak berhenti! Dia terus berjalan tak peduli aku sakit atau kamu sakit. Tak peduli ada hujan es, panas bumi yang sangat menyengat, terik mentari, badai tornado atau hal apapun yang buruk. Tak peduli malaikat sedang tersenyum, manusia yang berbahagia, cinta yang menceriakan orang-orang atau hal apapun yang baik. Dan... -___- waktupun belum dapat mengalirkan rasaku ke muara yang lebih jelas dan luas, tapi aku malah makin tersesat diantara wujudmu,bayanganmu,suaramu,dan matamu yang tak bisa kulenyapkan dari ingatanku.

kamu,
Malam ini hujan. Melihat matamu yang terpajang jelas didepanku cukup menghiburku :) Taukah kamu, namamu terukir rapi di otakku. Meskipun kau kadang terlalu naif. Tapi aku senang kamu ada didepanku sekarang. Pernahkah terbersit dalam pikiranmu tentang apa yang kupikirkan? tidak? yasudahlah. Mungkin memang ini perbedaan antara kamu dan aku. Ketika bertemu, otakmu masih dipenuhi pikiran akan banyak hal diluar sana yang menarik perhatianmu. Sedangkan aku, hanya memikirkan satu nama dari pemilik sepasang mata tajam namun lembut. Jangan tanya aku siapa karena dia dekat sekali denganku sekarang.

Kamu,
tak pernah aku bermaksud mengganggumu dengan perasaanku yang masih sulit kudefinisikan. Sulit karena satu hal yang malu aku ungkapkan. Agar kamu tau, rasa ini penuh simpati, lembut, peduli, dan bahkan cemas sekali-kali. Tapi selalu ingat setiap hari.

jangan senyum-senyum menggoda!

kamu tak tau tersiksanya aku melawan perasaan ini, perasaan yang berkata,"Aku rindu.."

Kamu,
sungguh aku tak berani bilang cinta. jangan tertawakan aku! Maafkan aku. Aku mungkin egois. Mungkin juga salah kira karena wanita sering salah mengartikan bahasa pria. Aku hanya ingin jujur, dan itu alasan yang klise bukan?

Kamu,
aku hanya ingin mengutarakan ini saja. Aku pikir akan lebih baik jika ada kamu saat seperti ini. Memang semuanya klise. Se-klise aku bilang,"Aku merindukanmu dan mulai menyayangimu tanpa perlu aku sadarkan kamu."

Angin malam,
terimakasih telah mendengarkan aku.

Kamu,
Sekarang apa yang akan kita lakukan? (C)

Tidak ada komentar: