Dia adalah perempuan yang sangat baik .
Tapi terbiasa diberi kesenangan lalu caci maki lelaki tua dengan amarah tinggi .
Dia menjadi perempuan yang cukup baik .
Lalu dikhianati teman baik nya .
Dia lalu menjadi perempuan yang baik .
Kemudian dikhianati lelaki yang dicintainya .
Berkali - kali .
Jatuh lagi .
Merangkak .
Berdiri .
Dan kemudian jatuh lagi .
Hidupnya memang masih singkat .
Tapi tak sesingkat luka batin yang dia tabung sejak dulu .
Entah kenapa ,
selalu dengan sendirinya tertabung dalam ingatan nya .
Yang lama-lama terpendam dan bisa gila .
Dalam sujud nya di tiap lima waktu
dan malam-malam yang tak pernah diharapkan nya ,
hanya tangan Tuhan yang dia harapkan .
Menyentuh luka batin yang sewaktu-waktu memanas,
tapi bisa juga mendingin,
dan memanas lagi .
Menyembuhkan rasa kesakitan tanpa darah yang mulai menjalar ke otak .
Menghilangkan ingatan tentang cacian busuk dan bedebah,
tanpa membuatnya hilang ingatan .
Melukis (lagi) senyuman di wajah perempuan itu tanpa ada beban yang tertumpuk terlalu dalam .
Tangan Tuhan itu yang kemudian selalu dia sebut Ibu . . .
Citra Wulandary Yunisha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar